Sementara itu, menurut penulis studi kasus keempat pasien anak-anak disebutkan sebagai kasus parah pertama COVID-19 pada anak di China. Dialami oleh anak berusia satu tahun, yang mengalami muntah dan diare selama enam hari sebelum akhirnya periksa ke rumah sakit.
Selain diare dan muntah, sang anak dengan riwayat masalah ginjal itu juga demam, lesu dan sesak napas ketika di rumah sakit. Para dokter awalnya mengira sang anak terinfeksi rotavirus. Awalnya, pada tes COVID-19 pertama hasil tes menunjukkan negatif tapi pada hari ke delapan sang anak dirawat di rumah sakit, hasil tes COVID-19 yang kedua memperlihatkan hasil positif. Dibantu tindakan intubasi dan memakai ventilator. Setelah 17 hari dirawat, anak ini akhirnya bisa keluar dari rumah sakit.
Dalam studi, para penulis juga menggambarkan kasus seorang bayi laki-laki berusia dua bulan yang menderita diare selama dua hari. Meskipun ia tidak memiliki gejala COVID-19, dokter tetap melakukan CT scan untuk memeriksa bayi tersebut, karena orangtua dan kakek-neneknya diduga menderita COVID-19. Ternyata, dokter menemukan anak tersebut menderita pneumonia di kedua paru-parunya sehingga harus dirawat di rumah sakit dengan dugaan COVID-19.
Catatan para penulis studi menyebutkan, gejala-gejala sakit pencernaan pada anak-anak menunjukkan bahwa virus corona tidak hanya menginfeksi pasien melalui saluran pernapasan.
"Virus ini berpindah melalui droplet, tapi bisa travel ke saluran pencernaan. Ini bisa terjadi jika seseorang menelan tinja yang mungkin saja dilakukan karena anak-anak aktif dan tidak terlalu memperhatikan kebersihan tangan. Konsekuensinya, kemungkinan infeksi melalui saluran pencernaan melalui kontak atau penularan fecal-oral cenderung secara signifikan lebih besar untuk anak-anak daripada orang dewasa, dan gejala gastrointestinal sebagai manifestasi pertama mungkin lebih umum terjadi pada anak-anak," kata para penulis studi, seperti dikutip Newsweek, Rabu (13/5/2020).
Terkait hasil studinya, tim studi mengakui bahwa studi ini masih terbatas karena berbagai alasan. Termasuk bahwa tes virus corona bisa memunculkan hasil positif palsu, selain itu tim juga tidak menguji tinja atau sampel darah anak-anak. Tetapi, melihat ada sejarah paparan, hasil pemeriksaan CT scan dan gejala lain dari pasien, tim disebutkan cukup yakin anak-anak tersebut terinfeksi virus corona.
Dari data tentang COVID-19 yang dikumpulkan sejauh ini, disebutkan menunjukkan bahwa COVID-19 pada anak umumnya bergejala ringan atau tidak ada gejala sama sekali. Kematian dalam kelompok pasien anak-anak pun masih dikatakan jarang. Biasanya, anak bisa pulih satu sampai dua pekan setelah menunjukkan gejala pertama.
Salah satu penulis studi, Dr Wenbin Li, dari Departemen Pediatrics Rumah Sakit Tongji, China menyebutkan ketika anak menderita penyakit lain atau ada gejala yang bukan sakit pernapasan, kemungkinan diagnosis awalnya bisa terlewat.
"Sangat mudah untuk melewatkan diagnosis di tahap awal, ketika seorang anak memiliki gejala non-pernapasan atau menderita dari penyakit lain. Berdasarkan pengalaman kami berurusan dengan COVID-19 di sini, anak yang menderita gejala saluran pencernaan terutama dengan demam dan atau riwayat paparan penyakit ini, harus dicurigai terinfeksi virus corona," terang dokter Wenbin.
Dokter Wenbin menambahkan, gejala seperti diare yang dialami oleh anak-anak kemungkinan ada hubungannya dengan distribusi reseptor dan jalur transmisi infeksi.
"Gejala gastrointestinal yang dialami oleh anak mungkin terkait dengan distribusi reseptor dan jalur transmisi yang terkait dengan infeksi COVID-19 pada manusia. Virus ini menginfeksi orang melalui reseptor ACE2, yang bisa ditemukan di sel tertentu di paru-paru serta usus. Hal ini menunjukkan bahwa COVID-19 punya kemungkinan menginfeksi pasien tidak hanya melalui saluran pernapasan dalam bentuk droplets, tetapi juga melalui saluran pencernaan dengan kontak atau penularan fecal-oral," pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)