Para peneliti berhasil menemukan korelasi yang kuat antara vitamin D dan penurunan angka kematian pada kasus virus corona atau COVID-19.
Penelitian yang dipimpin oleh Northwestern University ini menganalisa data dari sejumlah rumah sakit di China, Prancis, Jerman, Italia, Iran, Korea Selatan, Spanyol, Swiss, Britania Raya dan Amerika Serikat.
Hasilnya, pasien dari negara dengan jumlah angka kematian tertinggi seperti Italia, Spanyol, dan Britania Raya, memiliki level vitamin D yang lebih rendah dibandingkan negara lain yang terdampak.
Para peneliti juga menemukan kaitan antara level vitamin D dan cytokine storm (hyperinflammatory condition), atau kondisi yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang overaktif.
"Cytokine storm sangat merusak paru-paru dan memicu terjadinya gangguan pernapasan akut hingga kematian pada pasien," tegad Ali Daneshkhah, seorang postdoctoral research associate di Northwestern's McCormick School of Engineering, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (8/5/2020).
"Kondisi seperti inilah yang nampaknya membunuh sebagian besar pasien COVID-19, bukan disebabkan oleh paru-paru yang rusak akibat virus itu sendiri. Melainkan komplikasi yang salah sasaran dari sistem kekebalan tubuh," imbuhnya.
Kendati demikian, para peneliti juga memperingatkan akan bahaya dari konsumsi suplemen vitamin D yang berlebihan.
"Meski sangat penting untuk mengetahui bahwa level vitamin D memainkan peran penting dalam menurunkan angka kematian, namun kita juga tidak boleh terlalu memaksakan asupan Vitamin D pada semua orang," tegasnya.
Sementara itu, Vadim Backman yang menjadi ketua penelitian dari Northwestern mengatakan, "Kaitan antara level vitamin D yang rendah dengan angka kematian pada pasien virus corona masih harus dipastikan dengan penelitian lebih lanjut,".
Dia berharap penemuan timnya dapat menstimulasi para peneliti lain untuk turut serta memberikan kontribusi.
"Data dari hasil penelitian ini nantinya dapat membantu kita memperjelas kematian pada pasien COVID-19, serta memunculkan ide terapi atau obat penyembuhan baru," tandasnya.
(Helmi Ade Saputra)