"Cytokine storm sangat merusak paru-paru dan memicu terjadinya gangguan pernapasan akut hingga kematian pada pasien," tegad Ali Daneshkhah, seorang postdoctoral research associate di Northwestern's McCormick School of Engineering, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (8/5/2020).
"Kondisi seperti inilah yang nampaknya membunuh sebagian besar pasien COVID-19, bukan disebabkan oleh paru-paru yang rusak akibat virus itu sendiri. Melainkan komplikasi yang salah sasaran dari sistem kekebalan tubuh," imbuhnya.
Kendati demikian, para peneliti juga memperingatkan akan bahaya dari konsumsi suplemen vitamin D yang berlebihan.
"Meski sangat penting untuk mengetahui bahwa level vitamin D memainkan peran penting dalam menurunkan angka kematian, namun kita juga tidak boleh terlalu memaksakan asupan Vitamin D pada semua orang," tegasnya.