Plus Minus Sekolah Online di Tengah Pandemi Corona

Pradita Ananda, Jurnalis
Rabu 06 Mei 2020 11:17 WIB
Ilustrasi (Foto : Thehansindia)
Share :

Terkait upaya mengurangi laju penyebaran dan penularan virus corona COVID-19, sejak Maret 2020 lalu Pemerintah telah mengeluarkan instruksi untuk belajar di rumah.

Situasi para siswa, baik murid sekolah ataupun para mahasiswa yang tadinya belajar dengan sistem belajar tatap muka langsung dan formal. Seketika berubah menjadi serba online, dengan sistem sekolah online di rumah masing-masing.

Sudah berlangsung cukup lama, namun sampai saat ini belum bisa dipastikan sampai kapan sistem sekolah online dari rumah masing-masing peserta didik ini dilakukan.

Dilihat dari kacamata psikolog, sistem belajar atau sekolah online yang sekarang dijalani di masa pandemi COVID-19 saat ini memang ada nilai plus dan minusnya, alias ada keuntungan dan kerugiannya. Tidak hanya bagi para peserta didik, tapi juga guru, orang tua, pihak sekolah, hingga para stakeholder di bidang pendidikan.

Dengan adanya kebijakan pemerintah yang menerapkan sekolah-sekolah hingga universita untuk melakukan kelas pembelajaran secara online, psikolog Silvany Dianita, M.Psi, melihat secara pribadi, nilai plus pertama yang ia lihat langsung dari orang tua dan siswa yang ia temui, adalah orang tua dan siswa mengapresiasi sistem belajar online. Meski merupakan sesuatu hal yang bisa dibilang baru.

“Sebenarnya saya lihat (orang tua dan siswa) mengapresiasi sistem belajar online ini. Di mana dalam pembelajaran online ini bagi mereka sebagai sesuatu hal baru yang perlu dilakukan. Kebijakan ini jadi perubahan bagi peserta didik,” ujar Silvany, saat dihubungi Okezone, baru-baru ini.

Psikolog muda yang sehari-hari biasa praktek di salah satu rumah sakit di area Jakarta Selatan ini melanjutkan, dampak positif yang bisa dilihat dari berlangsungnya sekolah online ini ialah adanya tantangan literasi teknologi tersendiri. Contohnya untuk para siswa, kegiatan belajar mengajar secara online, membuat para siswa diminta mengeksplorasi penggunaan internet secara positif.

Nilai plus bisa belajar literasi teknologi ini bukan hanya bagi para siswa tapi juga banyak pihak lainnya. “Dengan sistem metode pembelajaran online, baik siswa, guru, dan stakeholder pendidikan dipaksa untuk bisa melek teknologi. Siswa juga diberi kesempatan mengeksplor kemampuan konten belajar secara lebih luas. Ini sebetulnya baik, siswa dipacu dengan metode belajar online,” tambahnya.

Begitu juga untuk para tenaga pengajar, sebagai guru sistem belajar sekolah online ini memicu kreativitas para guru harus ditingkatkan dan lebih dikembangkan lagi agar ada inovasi yang lebih dalam untuk mentransfer ilmu kepada murid.

Selain itu, Silvany melihat sekolah online juga mengajarkan peserta didik dan orang tua soal efektivitas waktu. Bagaimana caranya untuk menggunakan waktu secara efisien, siswa harus tetap bisa menyelesaikan deadline tugas yang sudah diberikan guru atau dosen di jam-jam tertentu.

Meski dilihat cukup banyak dampak positif, sekolah online di tengah PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ini juga menimbulkan beberapa nilai minus. Berikut beberapa nilai minus dari sistem pembelajaran online menurut psikolog;

1. Interaksi sosial

Biasanya murid atau mahasiswa melakukan interaksi sosial langsung dengan teman sebaya, guru atau dosen, dan orang lain. Silvany berpendapat, dengan sekolah dari rumah hanya lewat teknologi mempengaruhi interaksi sosial. Membatasi para siswa untuk berinteraksi secara langsung.

2. Jenuh

Rasa jenuh dan kebosanan ia sebutkan bisa melanda para peserta didik. Sebab setiap hari siswa hanya dihadapkan dengan materi-materi pembelajaran secara online. Tidak bisa tatap muka, tidak bisa bertanya langsung, tidak bisa interaksi sosial. Ini dirasa jadi nilai minus yang dirasakan tidak hanya oleh siswa tapi juga para guru dan orang tua murid.

3. Kurang kapasitas

Tidak dipungkiri, nyatanya tidak semua orang tua punya kapasitas untuk bisa dan tepat dalam mengajari materi pelajaran kepada anak. Tidak jarang orang tua jadi sangat kewalahan mengajari sang anak, sebab secara langsung tempat bertanya anak hanyalah orang tuanya. Silvany melihat, orang tua murid juga harus siap secara mental, bagaimana supaya bisa paham betul apa sebenarnya yang modul mata pelajaran yang dipelajari oleh anak.

4. Kedisplinan

Kedisplinan menurun bisa terjadi pada siswa dan orang tua. Dengan sekolah online, bisa saja siswa merasa bebas untuk suka-suka karena tidak lagi harus buru-buru ke sekolah. Cukup bangun tidur dan standby di depan komputer.

5. Internet tidak merata

Untuk murid atau mahasiswa yang tinggal di pelosok atau pedesaan, menurut Silvany sekolah online bukan jadi solusi yang tepat karena masalah jaringan internet. Jika sepenuhnya diterapkan belajar online, jadi ada tingkat kesulitan berbeda-beda tergantung wilayah si murid.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya