BEBERAPA waktu belakangan ini, ramai banyak gerakan untuk membantu para driver ojok online yang dilakukan oleh masyarakat. Baik itu donasi berupa uang tunai, alat kebersihan, ataupun makanan.
Padahal nyatanya, para ojol bukanlah jadi satu-satunya golongan kelas pekerja yang paling terdampak dari pandemi virus corona COVID-19 ini. Pekerja di layanan jasa lainnya, juga amat sangat terdampak dan kekurangan, bahkan kehilangan pendapatan karena tempat bekerja harus ditutup sementara.
Seperti kisah dari Didi, bukan nama sebenarnya, seorang karyawan salon terkenal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta. Didi bercerita, karena pandemi COVID-19 dan harus menaati aturan pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), salon tempat ia bekerja harus ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Didi mengaku, karena salon tempat bekerjanya ditutup, maka otomatis para karyawan tidak mendapatkan gaji seperti biasanya. Membuat dirinya harus ekstra berhemat di saat darurat seperti ini.
“Salon tutup sementara karena imbauan dari pemerintah. Pendapatan berkurang jelas, bahkan kadang enggak dapat pemasukan. Salon ditutup kan enggak dapat gaji kitanya,” tutur Didi, saat dihubungi Okezone, Jumat (17/4/2020) melalui sambungan telepon.
Tak lagi mendapatkan gaji tetap dari salon, Didi harus memutar otak agar tetap bisa menghidupi istri dan anaknya yang masih kecil. Agar tetap mempunyai penghasilan dan bisa makan sehari-hari, pria satu ini sekarang melayani panggilan layanan jasa salon ke rumah para pelanggan.
Melayani jasa panggilan salon di rumah para pelanggan, mau tak mau dilakukan Didi dengan segala risiko dan segala kerepotan. Bukan hanya mengenakan masker dan perlengkapan perlindungan diri lainnya. Didi juga harus mensterilkan semua alat dan peralatan salon yang digunakan.
“Sekarang hanya menerima booking reservasi saja, itu juga enggak setiap hari. Ya, mau gimana lagi, hanya bisa mengandalkan work go home ini. Itu pun ribet, pakai masker, bawa hand sanitizer, alkohol, semprot-semprot. Peralatan kayak gunting, alat pencukur dan alat lainnya semua harus disterilkan dahulu karena sekedar bersih saja enggak cukup,” sambung Didi.
Penghasilan yang didapatkan Didi dari layanan salon keliling ini, jauh dari kata cukup karena dalam satu minggu belum tentu ia mendapatkan orderan dari pelanggan. Sejauh ini, layanan jasa perawatan salon ke rumah yang ia terima, maksimal dua kali dalam satu pekan. Bahkan pernah dalam satu pekan, ia tidak mendapatkan orderan sama sekali.
“Paling satu sampai dua kali, kadang-kadang malah enggak dapat orderan sama sekali,” ujar Didi lirih.
Pekerjaan tetap melayani orderan salon panggilan ke rumah, dilakukan Didi dengan penuh risiko. Mengingat kebanyakan pelanggannya adalah tipe orang yang cukup sering bepergian ke luar negeri. Tapi risiko tinggi ini harus ditepis Didi sejauh mungkin, demi bisa mendapatkan penghasilan.
“Kalau enggak dikerjain nanti dapur rumah enggak ngebul. Kita di sini perantau, enggak dapat bantuan sembako,” lanjutnya.
Sebagai salah satu golongan pekerja yang paling terdampak, ayah satu anak ini tak menampik ia sesama pekerja di bidang jasa sebetulnya merasa iri dengan perhatian dan banyaknya bantuan yang diberikan masyarakat dan pemerintah kepada golongan pengendara ojek online.
“Ya iri lah, karena posisinya kerjanya sama kok. Sama-sama di bagian jasa. Ya harapannya sekarang semoga kita semua bisa survive menghadapai ujian ini,” tutup Didi singkat.
(Dewi Kurniasari)