“Dari studi kami ini, cukup untuk menaikkan bendera merah untuk menghentikan penggunaan dosis tinggi seperti itu di seluruh dunia untuk menghindari kematian yang tidak perlu," bunyi keterangan para peneliti di makalah tersebut.
Setelah menghentikan studi pada kelompok dosis tinggi, para peneliti segera memindahkan mereka ke dalam kelompok dosis rendah. Para peneliti tetap berencana memasukkan pasien ke kelompok dosis rendah untuk menyelesaikan dan melengkapi studi penelitian.
Semua pasien dalam penelitian ini juga mengonsumsi obat antibiotik yang disebut azithromycin. Antibiotik ini juga diketahui meningkatkan risiko masalah irama jantung.
Para peneliti mencatat bahwa mereka tidak dapat menilai efek racun dari antibiotik tersebut dengan sendirinya, karena semua pasien sudah menggunakan obat sebelum memulai penelitian.
Serupa dengan penelitian di atas, menurut pemberitaan Newsweek, satu rumah sakit di Prancis juga dilaporkan telah menghentikan treatment menggunakan hydroxychloroquine untuk setidaknya satu pasien positif COVID-19, setelah pasien mengalami masalah irama jantung.
(Helmi Ade Saputra)