Uji Coba
Dalam percobaannya, Paul dan timnya mengimunisasi tikus yang mereka rekayasa genetikanya agar rentan terhadap MERS-CoV. Hasilnya dosis tunggal yang disemprotkan ke hidung tikus ternyata sudah cukup untuk melindungi tikus dari dosis mematikan MERS-CoV.
Sebaliknya, 75 persen tikus yang disuntikkan vaksin versi berbeda (dibuat dari yang tidak aktif, atau dibunuh) MERS-CoV menyerah pada penyakit itu.
Ketika para peneliti memeriksa paru-paru tikus, mereka menemukan tanda-tanda bahwa vaksin telah membangkitkan sistem kekebalan hewan. Terlihat, tikus telah menciptakan antibodi dan sel T (sel darah putih yang membantu tubuh mengenali patogen yang telah terpapar sebelumnya dan meningkatkan respons imun) khusus untuk MERS-CoV.
Jika satu dosis vaksin dapat melindungi orang dari MERS, seperti yang terjadi pada tikus, maka vaksin ini bisa lebih cepat ditingkatkan untuk produksi massal. Keuntungan lain disebutkan dokter Paul, vaksin diberikan melalui hidung, sehingga vaksin terkirim langsung ke sumber.
“Karena MERS adalah penyakit pernapasan, menghadirkan virus jinak secara langsung mengirimnya ke sumber, yakni sel-sel kekebalan di dalam sistem pernapasan itu sendiri,” imbuh dokter Paul.
Kini, untuk mencapai goal bisa menemukan vaksin COVID-19, Paul dan tim telah merekayasa tikus yang rentan terhadap virus corona baru tersebut dan menyiapkan vaksin yang terbuat dari PIV5, serta protein lonjakan dari SARS-CoV-2 yang direncanakan untuk diuji pada hewan.
(Helmi Ade Saputra)