Penelitian Ungkap Masker Bedah dan Kain Tak Efektif Cegah COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Selasa 07 April 2020 20:50 WIB
Ilustrasi (Foto : Healthline)
Share :

Para peneliti mengutip penelitian sebelumnya yang menyarankan untuk menggunakan masker respirator bedah dan N95. Masker ini menutup hidung dan mulut, dan dapat membantu mencegah penyebaran SARS-CoV-2.

Tetapi karena pandemi ini telah menyebabkan dunia kekurangan masker N95 dan masker bedah, maka masker kain telah muncul sebagai alternatif potensial. Penelitian ini dilakukan ketika pejabat kesehatan meninjau panduan mengenakan masker untuk memerangi COVID-19.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) A.S. pun mengaku memperbarui rekomendasinya pada minggu lalu. Badan itu sekarang menyarankan masyarakat umum untuk mengenakan masker kain saat berada di tempat umum.

Masker digunakan saat seseorang merasa kesulitan melakukan langkah social distancing. Misalnya saat berada di toko kelontong atau apotek, terutama pada daerah di mana virus menyebar di masyarakat.

Baru-baru ini Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam debat media, untuk menekankan bahwa masker medis kekurangan pasokan secara global. Oleh sebab itu masker medis harus diprioritaskan bagi para petugas kesehatan yang berada di garis terdepan.

“Di masyarakat, kami merekomendasikan penggunaan masker medis oleh orang-orang yang sakit dan mereka yang merawat orang sakit di rumah,” terang Ghebreyesus.

Ghebreyesus mengatakan organisasi itu telah mengevaluasi penggunaan masker medis dan non-medis dan mengeluarkan panduan untuk membantu negara-negara memutuskan kebijakan mereka.

“Jika masker dipakai, mereka harus digunakan dengan aman dan benar. WHO memiliki panduan tentang cara memakai, melepas dan membuang masker," lanjutnya

Ghebreyesus menekankan bahwa masker seharusnya hanya digunakan sebagai bagian dari paket intervensi yang komprehensif. Masker saja tidak dapat menghentikan pandemi COVID-19. Negara-negara harus terus mencari, menguji, mengisolasi dan menangani setiap kasus dan melacak setiap kontak yang dilakukan.

Menurut Universitas Johns Hopkins, sejak virus muncul dari pusat kota Wuhan di China pada akhir tahun lalu, lebih dari 1,3 juta orang telah didiagnosis terinfeksi COVID-19. Sebanyak 74, 816 orang telah meninggal, dan hampir 285.000 orang telah pulih.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya