Malah sebetulnya, kita harus berhati-hati dalam penggunaan sabun antiseptik. Diungkapkan dokter anak di Rumah Sakit Anak Helen DeVos, Michigan, Amerika, Dr. Dan McGee, sebenarnya sabun antiseptik yang dipikir sebagian orang jauh lebih baik dibandingkan sabun biasa, nyatanya jika dipakai terus-terusan dapat berdampak negatif.
“Jika semua orang menggunakan sabun antibakteri, yang ada kita akan benar-benar mendorong bakteri kebal obat untuk berkembang. Sabun apapun dengan air sudah bagus,” tandasnya, seperti dikutip Today.
Sementara itu, spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan, dr Erlina Burhan mengingatkan betapa pentingnya mencuci tangan minimal selama 20 detik untuk mencegah penularan COVID-19 dengan cara yang benar. Dimulai dari permukaan dalam, sela-sela jari, pinggir-pinggir jari sampai ke ujung-ujung kuku, menyentuh semua permukaan tangan.
"Bahwa mencuci tangan harus bersih dan benar caranya dan ini durasinya sekitar 20 detik," ucap Erlina.
Imbauan pentingnya mencuci tangan minimal selama 20 detik juga disampaikan Jubir COVID-19, dr. Achmad Yurianto. Menurutnya sabun cuci tangan biasa sudah terbukti ampuh untuk membunuh virus corona. Sehingga tak ada lagi alasan untuk tidak rajin mencuci tangan.
“Tidak perlu mencari sesuatu yang sulit, karena secara ilmiah sudah dibuktikan virus ini sangat rentan dan mudah hancur manakala terkena sabun dan detergen," ujarnya dalam konferensi pers “Update COVID-19”, di Gedung BNPB Indonesia, Jumat 27 Maret 2020 lalu.
(Helmi Ade Saputra)