Seperti diketahui, infeksi pernapasan dapat memicu terjadinya badai sitokin, atau kondisi di sel-sel inflamasi merusak organ di seluruh tubuh. Hal inilah yang meningkatkan risiko kematian pada penderita COVID-19.
Vitamin D kemudian muncul sebagai alternatif untuk melindungi mereka yang rentan terserang oleh virus tersebut. Menariknya, data terakhir yang dikeluarkan CDC< lebih dari 40% orang dewasa di Amerika Serikat dinyatakan kekurangan Vitamin D.
Buktinya bisa dilihat dari jumlah pasien atau korban jiwa yang terpapar penyakit musiman seperti influenza dan TBC. Mereka diduga rentan terserang penyakit tersebut karena tidak mendapatkan suplai Vitamin D yang cukup. Salah satu faktornya disebabkan oleh minimnya sinar matahari di kala musim dingin tiba.
Sementara di negara-negara tropis seperti India, para ilmuwan mengklaim mungkinan terjadinya penyakit musiman ini sangat kecil. Pasalnya, cuaca dan paparan sinar matahari di negara tersebut cenderung konstan sepanjang tahun.
"Ketika saya bekerja di India dari tahun 1996-2002, saya meminta CDC mengirim petugas intelijen epidemi untuk menyelidiki kemungkinan tersebut. Dan dr. Lorna Thorpe, pemimpin utama penelitian itu mengatakan daerah di selatan negara itu memang memiliki cuaca panas sepanjang tahun. Kasus penyakit musimannya pun terbilang rendah," ujar dr. Tom Frieden.