Kemudian, sambungnya, di 2011 ada juga virus dari Middle East atau lebih dikenal MERS. Menurut Yuri, virus ini agak jahat, karena angka kematiannya 30-40 persen atau dari 100 orang, yang meninggal dunia sekira 30-40 orang.
"Yang bungsu kemarin itu, awalanya kita kasih nama novel coronavirus. Kemudian kita sepakati dengan COVID-19. Angka kematiannya 2-3 persen," imbuhnya.
Hanya yang menjadi masalah, menurut Yuri, pada kasus SARS di 2020, belum banyak orang yang memiliki smartphone. Sehingga, sangat jarang orang yang tahu bahayanya SARS.
Kemudian, kata Yuri, inilah yg menjadi lebih ramai di masyarakat. Ditambah juga dengan kreativitas teknologi yang arahnya tidak benar.
"Misal sequel film Zombie lah dimasukin. Katanya di Wuhan banyak yang bergelimpangan. Lalu kalau di Korea Utara, ada yang positif ditembak mati. Ternyata itu kalau dilihat potongan dari film," pungkasnya.
(Dewi Kurniasari)