Demi Hindari Korona COVID-19, 27 Orang Tewas Keracunan Alkohol Industri

Pradita Ananda, Jurnalis
Rabu 11 Maret 2020 19:16 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

WABAH virus korona COVID-19 telah menjadi masalah darurat global. Virus ini memang menimbulkan kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat dunia.

Namun sebaiknya, kekhawatiran, kepanikan serta ketakutan ini tidak berlebihan karena bisa membuat kita malah salah dalam mengambil langkah tindakan.

Contohnya kekeliruan yang baru saja terjadi di Iran. Baru saja dilaporkan oleh media setempat, seperti dilansir Newser, Rabu (11/3/2020) disebutkan ada 27 orang meninggal setelah menenggak minuman beralkohol, dengan maksud melindungi diri agar aman dari virus korona COVID-19.

Orang-orang ini tinggal Provinsi Khuszestan dan Alborz, tewas karena keracunan alkohol. Disebutkan ABC News, para korban mengira minuman alkohol bisa menangkal COVID-19. Hal ini lantaran ada postingan di linimasa media sosial, yang menyebutkan bahwa virus korona COVID-19 ini bisa ditangkal dengan meminum alkohol.

Namun mengingat minuman beralkohol dilarang di Iran, kecuali untuk orang non-Muslim dan agama minoritas lainnya, membuat orang-orang memilih mengonsumsi alternatif alkohol lainnya, yakni alkohol industri seperti ethanol dan methanol, yang biasanya digunakan untuk produk sanitasi.

Kekeliruan fatal karena termakan berita hoax ini, seperti dijelaskan oleh juru bicara sekolah kedokteran di Khuzestan kepada media setempat, tak hanya membuat 27 orang di Iran meninggal. Tapi juga membuat ratusan orang lainnya harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Beberapa masyarakat menggunakan alkohol industri itu sebagai upaya pencegahan. Total lebih dari 200 orang telah dirawat di rumah sakit setelah meminum alkohol berbahaya tersebut. Beberapa orang dalam kondisi kritis, dan satu pasien telah menjadi buta,” ungkap sang juru bicara.

Sementara itu Iran sendiri, sekarang terkait virus korona COVID-19 telah menjadi negara yang paling terinfeksi di benua Timur Tengah. Tercatat per Senin 9 Maret 2020 kemarin sudah ada lebih dari 7000 kasus, dengan 237 orang pasien meninggal dunia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya