SAAT ini Indonesia dilanda ancaman penyebaran penyakit dari virus korona/Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Demam Berdarah Dengue (DBD), juga demam tifoid. Tiga ancaman penyakit itu, sama-sama diawali dengan gejala demam loh.
Meski sama-sama diawali dengan gejala demam, masih ada gejala memiliki gejala yang berbeda dibandingkan COVID-19, demam tifoid dan DBD. Seperti apa sih cara membedakannya?
Dilansir Okezone dari Medicine Net, Senin (9/3/2020), tifus disebabkan oleh bakteri Salmonellae typhi yang menyebabkan demam tifoid. Orang dapat tertular demam tifoid dengan menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Diagnosis demam tifoid dibuat ketika bakteri Salmonella terdeteksi dengan kultur tinja seseorang.
Gejala umum demam tifoid adalah, nafsu makan yang buruk, sakit kepala, diare, sakit dan nyeri umum, demam serta kelesuan. Sekira 3-5 persen pasien menjadi pembawa bakteri setelah penyakit akut. Bagi mereka yang bepergian ke daerah berisiko tinggi, vaksin tifoid saat ini sudah tersedia. Terdapat dua bentuk vaksin yang tersedia dalam bentuk oral dan bentuk injeksi.
Untuk DBD, dilansir Okezone dari Web MD, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk yang terinfeksi satu dari empat virus dengue, yang saling berkaitan erat. Virus ini terkait dengan penyakit yang menyebabkan infeksi West Nile atau demam kuning.
Diperkirakan 400 juta orang di seluruh dunia yang terinfeksi dengue, dengan sekira 96 juta orang terserang penyakit. Sebagian kasus demam berdarah atau lebih dikenal sebagai dengue fever ini terjadi di wilayah beriklim tropis.
Gejala DBD biasanya dimulai sejak empat sampai enam hari setelah infeksi dan berlangsung hingga 10 hari. Beberapa gejalanya adalah demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan otot yang parah, kelelahan, mual, muntah, ruam pada kulit yang muncul lima hari setelah demam, pendarahan ringan seperti mimisan, gusi berdarah atau memar.
Kalau kasus COVID-19, dilansir Okezone dari Live Science, dokter masih berusaha memahami gambaran lengkap tentang gejala dan keparahan penyakit ini. Gejala yang dilaporkan pada pasien bervariasi mulai dari yang ringan sampai yang berat dan meliputi demam, batuk dan sesak napas.
Gejala-gejala lain COVID-19 adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit perut dan diare meskipun jarang dilaporkan terjadi pada pasien. Studi terbaru dari Pusat Pengendalian dan Perlindungan Penyakit China, menganalisis ada 44.672 kasus yang dikonfirmasi di China antara 31 Januari 2020 dan 9 hingga 11 Februari 2020.
(Dewi Kurniasari)