Sejak diumumkannya 2 WNI positif COVID-19, masyarakat melakukan panic buying dengan membeli banyak masker dan menimbun makanan sebanyak-banyaknya. Mereka sangat takut kehabisan masker dan makanan. Padahal seharusnya menyikap keberadaan virus tak perlu sepanik itu yang penting menjaga kesehatan dan sering cuci tangan.
Selain memang virus korona menjadi perbincangan di berbagai belahan dunia, berbagai informasi hoaks tersebar juga luas. Tidak saja di media sosial, tetapi juga di media-media arus utama.
Mulai dari adanya 136 orang yang dipantau karena diduga mengidap virus penyebab COVID-19, Paus Fransiskus terjangkit virus, hingga ketidaksiapan fasilitas kesehatan di Indonesia dan beragam resep mencegah virus korona.
Sekretaris Dirjen Pencegahan & Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr. Achmad Yurianto mengatakan, sebenarnya virus yang paling ganas itu justru virus hoaks.
“Virus yang paling ganas itu justru virus hoaks. Menyebarluas dengan cepat dan tidak ada obatnya. Tetapi saya yakin warga kita makin lama makin pintar. Sudah tentu ketika jualan hoaksnya tidak laku, makin membuat gencar pembuatnya. Semakin ditingkatkan kualitas bohongnya maksud saya,” ujar dr. Achmad.
Sementara itu, menanggapi kepanikan sebagian masyarakat saat ini,
Pengamat Komunikasi dan Budaya Digital Dr. Firman Kurniawan menyerukan kepada otoritas berwenang agar lebih rajin memberi penjelasan dan pedoman kepada warga.
“Jika ancaman virus itu nyata adanya, bukan hanya Pak Menkes yang harus mengubah style bicaranya yang santai. Lebih baik menjelaskan langkah mitigasi," ujar Firman.