Mendengar pertanyaan itu, ia seakan dihadapkan oleh situasi yang menyulitkan. Lidahnya kelu untuk memberikan jawaban. Dalam suasana hening, Akbar tersadar untuk memberikan jawaban.
"Saya jawab, 'Kalau abang sudah enggak kuat boleh kok,'. Saat itu langsung saya peluk almarhum, karena saya tahu ini tak akan lama dan sorenya hanya melakukan hal-hal yang membuat ia bahagia. Lusanya almarhum kembali kejang dan koma, tiga hari kemudian Almarhum wafat," kata Akbar.
Kenangan akan sosok adik tersebut tak pernah terlupakan oleh Akbar. Dirinya sampai memerlukan bantuan psikolog agar pulih. Meski begitu, kejadian tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menjadi kakak pendamping. Baginya, relawan di layanan paliatif sangat berharga karena berada di titik terendah seseorang saat kehilangan harapan, ditinggal orang-orang yang dikasihi, dan perlu diyakinkan bahwa dirinya tidak sendiri.
"Kita tak harus pintar dengan jutaan kata motivasi, karena mereka hanya perlu pundak untuk bersandar, tangan untuk digenggam, selembar tisu untuk menghapus air mata mereka, telinga yang siap mendengar segala keluh kesah dan ketakutan mereka, bukan nasihat, bukan pula komentar, melainkan didengarkan. Bersedia untuk belajar mengerti dari sudut pandang orang lain dan mendengarkan kisahnya," pungkas Akbar.
(Helmi Ade Saputra)