Tim peneliti melakukan tinjauan literatur ilmiah selama dua dekade, yang berkaitan dengan studi perilaku bunuh diri. Mereka mengamati 131 studi yang mencakup lebih dari 12.000 orang. Melihat perubahan dalam struktur dan fungsi otak yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri pada seseorang.
Berdasarkan gabungan dari semua studi mengenai otak manusia, peneliti mencari bukti perubahan structural, fungsi otak, dan molekul yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Mereka mengidentifikasi di antara dua koneksi jaringan otak mana yang memiliki dorongan paling dominan untuk bunuh diri.
Pertama, jaringan ini melibatkan area yang menuju bagian depan otak yang dikenal sebagai media prefrontal cortex ventral dan lateral. Jaringan ini berhubungan dengan daerah otak lain yang terlibat dalam emosi.