Ketika tertekan, sebagian orang memeiliki insting untuk menentukan apakah mereka memilih melawan atau melarikan diri. Menurut dr. Dhanesh Gopalan, Psikolog Klinis Openminds Psychiatry, Counseling and Neuroscience Center mengatakan, bahwa kabur dari rumah bisa jadi tindakan yang implusif ketika berada di situasi tertekan dan takut.
Dilansir dari Gulfnews, Selasa (26/11/2019), faktor tersebut bisa diakibatkan karena bully-an, pertengkaran dalam keluarga, dipermalukan, penampilan, material, atau bahkan ketakutan akan kekerasan keluarga. Secara tidak langsung hal ini menjadi pemicu adanya tekanan emosional dan mental yang terlokalisasi di sekitar mereka.
Dokter Gopalan menambahkan, alasan lain berupa fakta bahwa anak ingin menyembunyikan beberapa hal karena mereka tidak ingin orang tua tahu sehingga ia memilih cara mudah untuk menghindari hukuman. Setelah adanya faktor berikut, timbullah pertanyaan-pertanyaan terkait permasalahan yang terjadi.
1. Kapan permasalahan timbul?
Dokter Sneha John, Psikolog Anak & Dewasa di Pusat Konseling Holistik LifeWorks Dubai mengatakan, ketika anak melarikan diri setelah masalah terjadi, bisa jadi itu adalah cara untuk menghindari konsekuensi dan rasa malu. Dengan lingkungan yang menerimanya tanpa syarat, terjalin komunikasi yang baik antara orangtua dan anak, serta pengembangan keterampilan dalam pemecahan masalah, dapat membantu menghindari situasi tersebut.