Satu roda raksasa di bagian depan serta dua lagi di belakang menjadikan kapal Robert tak perlu dermaga untuk berlabuh. Ya, roda-roda itu membuat kapal dapat berjalan di pantai dan tetap lincah di perairan karena di topang mesin yang kuat. Layaknya sebuah pesawat, untuk naik ke kapal diperlukan tangga yang ditempel ke truk kecil. Dari tangga itulah kami naik ke atas kapal berkapasitas 25 kursi untuk penumpang.
Sesaat sebelum berangkat, Robert memberikan penjelasan tentang standar keamanan. Kami pun ditawari pil anti mabuk dengan dosis minimal dua butir per orang. Saya sempat menolak untuk meminumnya, tapi apa salahnya untuk jaga-jaga karena nyaris semua orang meminumnya.
Mesin pun menderu dan Robert memberi aba-aba kapal untuk segera berlayar setelah semua dicek sudah memakai sabuk pengaman dan pelampung. Dari bibir pantai Norman Beach di North Bay Wilson Promontory, roda kapal pun berputar menggerakkan kapal ke arah perairan menuju South Point.
Begitu kapal menyentuh air sensasi baru berupa goyangan naik turun mulai terasa, persis seperti yang digambarkan Robert sebelum perjalanan dimulai. Mesin pun berganti, yang tadi mendorong roda-roda raksasa kini menggerakkan baling-baling kapal. Jangan ditanya kecepatannya karena membuat kapal menderu dan meloncat-loncat di atas ombak, cukup membuat mual perut dan pusing kepala.
Beruntung, saya dapat posisi duduk di bagian belakang sehingga goncangan tak begitu besar, apa jadinya jika memilih posisi di bagian depan kapal tentu akan lebih kencang teriakan yang keluar. Berbeda dengan Robert dan kru kapal yang kelihatan begitu rileks, mereka berjalan di pinggiran kapal bergerak dari belakang dan depan sambil menanyai satu per satu penumpang kondisinya. Semua menjawab oke meski dalam hati tak henti melantunkan doa. Lebih dari satu jam semua berjibaku dengan angin kencang, ombak dan udara dingin yang menusuk.