Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menarik obat asam lambung ranitidin dari peredaran. Alasannya karena obat tersebut mengandung cemaran yang berpotensi menyebabkan kanker. Langkah yang diambil oleh Badan POM ini menyusul pernyataan yang dikeluarkan oleh Food and Drug Administration (FDA) beberapa waktu lalu.
Dalam uji coba terbatas yang dilakukannya, FDA mengatakan ranitidin mengandung karsinogen N-Nitrosodimethylamine atau NDMA yang kadarnya melebihi batas. Menurut uji coba laboratorium, dalam satu tablet ranitidin mengandung NDMA lebih dari 300 ribu ng. Padahal batas yang diizinkan adalah 96 ng.
Sekadar informasi, ranitidin adalah kelompok obat yang disebut histamin-2 blocker. Obat ini bekerja untuk mengurangi jumlah asam yang dihasilkan lambung. Ranitidin digunakan untuk mengobati dan mencegah terjadinya gangguan di saluran pencernaan dan menurunkan asam di lambung. Selain itu, ranitidin juga diresepkan untuk mengobati Gastroesophageal reflux disease (GERD) dan kondisi lain yang membuat asam dari lambung mencapai kerongkongan hingga menyebabkan mual.
Sebelum ramai diperbincangkan karena mengandung karsinogen dalam jumlah tinggi, ranitidin sering diresepkan oleh dokter untuk mengatasi masalah kesehatan berkaitan asam lambung. Akan tetapi, seperti obat pada umumnya, ranitidin juga memiliki efek samping. Merangkum berbagai sumber, Senin (7/10/2019), inilah efek samping lain dari ranitidin :
Pneumonia
Menggunakan ranitidin dapat meningkatkan risiko terkena pneumonia. Gejala pneumonia antara lain nyeri dada, demam, napas pendek, dan batuk lendir berwarna hijau atau kuning.
Gangguan makan
Meski dikonsumsi untuk meredakan asam lambung. efek samping ranitidin dapat menyebabkan sakit perut. Selain itu, obat ini juga bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan.
Masalah saraf
Obat Ranitidin dapat menyebabkan masalah saraf. Karenanya, penggunaan ranitidin dapat mengakibatkan sakit kepala hingga tingkat yang parah.
Masalah kulit
Selain menyebabkan masalah saraf, ranitidin juga bisa menimbulkan gangguan di kulit. Bahkan, ranitidin juga dapat menimbulkan masalah pada rambut.
Masalah kardiovaskular
Ranitidin menyebabkan denyut jantung cepat atau lambat. Karenanya, obat ini dapat menyebabkan masalah kardiovaskular.
Gangguan tidur
Ranitidin dapat menyebabkan pengguna mengantuk. Tapi di sisi lain, obat ini juga bisa mengakibatkan insomnia.
Disfungsi seksual
Ranitidin juga memengaruhi kehidupan seksual. Efek yang bisa terjadi antara lain penurunan gairah seks, impotensi, dan kesulitan mengalami orgasme.
Efek lain
Mudah memar, berdarah, payudara yang bengkak atau lunak pada pria, mual, muntah, diare, dan sembelit. Itulah efek samping dari penggunaan ranitidin yang baru saja ditarik oleh BPOM.
(Helmi Ade Saputra)