Kisah Wahyu Mendaki Gunung Lawu di Malam 1 Suro, Ngaku Dikawal Prajurit Kerajaan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Sabtu 31 Agustus 2019 00:07 WIB
Wahyu dan teman-temannya saat mendaki Gunung Lawu (Foto: Dok. pribadi)
Share :

"Saya ajak ngobrol, mereka bilang 'panas-panas'. Dari situ saya sadar kalau Mbak Eka kerasukan arwah korban kebakaran. Saya cuma bisa bilang, saya dan yang lain akan bantu doain biar mereka tidak penasaran," ungkap Wahyu.

Mendengar ucapan Wahyu, Eka tiba-tiba muntah, pertanda bahwa para arwah gentayangan itu sudah keluar dari tubuhnya. Namun tak beberapa lama kemudian, suara Eka kembali berubah seperti suara seorang pria. Intonasinya terdengar sangat berat dan berbicara dalam bahasa Jawa halus.

Kali ini yang merasuki tubuh Eka adalah arwah eyangnya, Raja Jayabaya.

"Eyangnya masuk, dan langsung ngomong 'Sugeng Rahayu'. Gue yang pada saat itu lagi bikin teh, spontan menjawab 'Rahayu'. Terus dia berbicara bahasa Jawa halu, 'Putuku iki loro' (cucuku ini sedang sakit). Gue tau waktu itu Mbak Eka kondisinya kurang fit, dan terserang Hipotermia. Gue langsung minta maaf, dan eyangnya pamit," ujar Wahyu.

 

Mimpi bertemu Raja Brawijaya

Saat malam tiba, Wahyu dan teman-temannya memutuskan untuk mendirikan tenda di depan warung Mbok Iyem. Mereka terpaksa memilih tempat tersebut, agar Eka bisa beristirahat dan melanjutkan perjalanan.

Di sinilah, salah satu teman Wahyu bernama Risman, turut mengalami sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Berbeda dengan Wahyu dan Eka yang bisa berinteraksi langsung, Risman justru bertemu dengan sesosok makhluk halus di dalam mimpinya.

"Si Risman malamnya mimpi seperti dituntun ke Sendang Derajat oleh sesosok pria berjubah. Terus dia mengatakan, 'Oh jadi kamu yang menemani cucuku naik gunung. Kamu mau minta apa le?'. Merasa kaget, Risman pun terbangun dari tidurnya. Dia baru sadar naik bukan sama orang biasa," terang Wahyu.

Pendakian pun dilanjutkan. Wahyu beserta rombongan menyambangi 4 spot ritual yang paling banyak didatangi peziarah yakni, Sumur Jolo Tundo, Sendang Drajat, Hargo Dalem, dan Hargo Dumilah.

Di tempat tersebut, Wahyu sebetulnya tidak ikut melakukan ritual. Ia hanya datang untuk sekadar berdoa dan kulo nuwun (permisi) dengan penghuni di tempat itu.

"Saya cuman sambat biasa saja dan berdoa. Karena memang kami datang untuk memenuhi 'undangan khusus'. Peziarah lain ada yang bermeditasi satu malem, berdiam diri, menyepi. Terus ada yang motong ayam hitam agar terpilih jadi kepala desa, ada yang mencari ilmu, dan ada yang mengulik sejarah," kata Wahyu.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya