Ketika sedang berjalan, pernahkah Anda digoda orang tak dikenal dengan cara bersiul, memanggil atau melambai? Hati-hati, karena itu merupakan bentuk pelecehan seksual secara verbal atau biasa disebut catcalling.
Walau terlihat sepele, catcalling yang sering terjadi di lingkungan sekitar menimbulkan gangguan psikologis terhadap korban. Catcalling dapat terjadi pada pria maupun wanita. Aktivis antikekerasan seksual, Holly Kearl, melakukan penelitian tentang dampak psikologis pelecehan seksual.
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 2.000 responden yang terdiri dari pria dan wanita menunjukkan fakta mengejutkan. Holly Kearl menemukan fakta wanita lebih sering mengalami pelecehan seksual verbal di jalanan alias catcalling. Korban catcalling akan mengalami trauma psikologis. Mereka biasanya merasa kurang aman berada di tempat umum sehingga cenderung membatasi diri dan menyebabkan gangguan emosional. Perilaku membatasi diri yang dilakukan korban misalnya dengan mengubah penampilan.
Wanita cenderung merasa tidak nyaman saat mengalami catcalling. Sayangnya, tidak semua wanita berani melawan pelecehan seksual tersebut.
Kebanyakan wanita menganggap dirinya lemah dan kurang pertahanan. Wanita seperti itu akan memilih diam daripada melawan, karena takut terjadi hal-hal yang lebih buruk. Lain halnya dengan wanita pemberani, mereka akan melawan ketika mengalami catcalling.
Perlawanan bukan sekadar menasihati atau memarahi si pelaku catcalling. Perlawanan juga bisa berbentuk mengungkap pelaku pelecehan seksual seperti yang dilakukan pemilik akun @dearcatcallers di Instagram. Akun yang memiliki 268.000 pengikut tersebut mengunggah sederet kejadian catcalling yang dialaminya.