Saat didiami oleh Yohana dan Albertus van der Parra, perekonomian di kawasan Cimanggis mengalami peningkatan yang cukup pesat. Apalagi setelah Pasar Cimanggis dibangun. Tempat ini menjadi sentra ekonomi masyarakat setempat. Sekarang pasar tersebut dikenal dengan nama Pasar Pal.
Setelah Yohana tutup usia, kepemilikan rumah berpindah tangan kepada seorang pengusaha bernama David Smith. Pria berkebangsaan asing itu hanya menempati rumah ini beberapa waktu saja karena usahanya bangkrut.
Buntut dari kasus tersebut, kepemilikan Rumah Cimanggis sempat tidak jelas. Kempilikan Rumah Cimanggis baru diketahui kembali pada 1953 dengan Samuel de Meyer tercatat sebagai pemiliknya. Sebelumnya, tentara Belanda sempat menempati rumah tersebut sebagai markas selama berlangsungnya agresi militer pertama.
Memasuki era orde baru, di sekitar Rumah Cimanggis didirikan tiga pemancar RRI pada 1964. Adanya pemancar RRI membuat fungsi Rumah Cimanggis ikut berubah. Pada 1978, Rumah Cimanggis dijadikan rumah dinas bagi karyawan RRI di mana rumah dibagi menjadi 13 bagian dan setiap bagiannya ditempati satu kepala keluarga.
Awal 2000-an, Rumah Cimanggis akhirnya dikosongkan. Sejak saat itu kondisi bangunan mulai tidak terawat dan secara perlahan mengalami kerusakan. Perhatian besar terhadap Rumah Cimanggis baru kembali muncul saat di komplek RRI tempat berdirinya bangunan ini direncanakan akan dibangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).