"Prestasi itu bisa dijadikan pintu masuk untuk mengetahui kondisi kejiwaan anak. Lihat dari nilai raportnya, ada bolos atau tidak, melakukan perundungan terhadap teman atau tidak, macam-macam. Kalau di sekolah anak menunjukkan sikap-sikap yang aneh, barulah pihak sekolah bertanya-tanya dan membuka komunikasi dengan orangtua," tutur dr Noriyu.
Saat sekolah berupaya melibatkan orangtua untuk menganalisis kondisi kejiwaan anak, orangtua juga harus turut serta. Orangtua tidak bisa serta merta menyerahkan tanggung jawab ke sekolah. Sebab kembali lagi, pendidikan dan pemahaman anak terhadap suatu hal kembali lagi ke keluarga.
"Beda cerita kalau orangtuanya tidak mau tahu. Hal ini membuat guru memberitahu juga sulit karena tidak ada pola komunikasi yang terbentuk," tambah dr Noriyu. Tidak adanya perhatian terhadap tanda-tanda aneh, bisa saja meningkatkan risiko bunuh diri pada remaja.
(Dinno Baskoro)