PERCAYA atau tidak, ikatan batin seorang ibu dan anak memang tetap terikat secara alamiah. Ketika seorang ibu tengah kalut atau dirundung kesedihan, pasti sang anak ikut merasakannya, seperti anak Fairuz A Rafiq.
Rupanya, buntut dari perseteruan Galih Ginanjar dan Fairuz A Rafiq pun juga dirasakan oleh putranya, King Faaz. Meski baru berusia 7 tahun, putra pertama Fairuz A Rafiq itu rupanya enggan menyinggung ayah biologisnya.
Bahkan di mata sang anak, Fairuz A Rafiq juga tidak pernah sekalipun menyinggung kejelekan bapak biologisnya. Karenanya, ketika tahu ibunya dijelek-jelekkan, dia pun tidak tinggal diam.
"Tapi setiap aku ngobrol sama dia, Faaz sekarang sudah 7 tahun sudah mulai bisa memahami. Akhirnya dia ngomong sama aku 'mami jangan pernah sebut nama dia, iya jangan pernah sebut nama dia, Faaz enggak mau gitu. Dia tahu bahwa maminya tersakiti," tutur Fairuz A Rafiq ketika menceritakan Galih Ginanjar.
Menanggapi hal itu, Psikolog Meity Arianty menerangkan, ikatan batin antara ibu dan anaknya tentu sangat kuat. Karena ibu yang mengandung dan melahirkan, sehingga para ilmuwan menyebut bahwa ikatan batin yang terkuat.
Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui mengapa depresi dan gangguan emosi lainnya, tampaknya sering diteruskan dari ibu ke anak. Ikatan batin ibu ke anak terbentuk sejak dalam kandungan, sehingga tidak heran bila ikatan ke ibu jauh lebih kuat dibanding dengan seorang ayah.
"Faaz sejak kecil bersama ibunya tentu merasakan perjuangan ibunya dan pasti bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya. Sejak mengalami kasus, ibunya tentu mengalami tekanan yang luar biasa. Mungkin sering menangis karena masalah tersebut, tentu sebagai anak juga akan ikut merasakan apa yang rasakan ibunya," beber Mei.
Anak Fairuz A Rafiq menolak untuk mendengarkan nama ayah biologisnya.