Melansir Mayo Clinic, Selasa (25/6/2019), belum diketahui penyebab pasti terjadinya distimia. Namun ada kemungkinan melibatkan lebih dari satu penyebab seperti perbedaan biologis yang memengaruhi perubahan fisik di otak, zat kimia di otak, sifat bawaan, dan peristiwa kehidupan. Selain itu, ada beberapa faktor risiko lainnya yang dapat mengembangkan atau memicu distimia.
Faktor risiko itu antara lain memiliki kerabat tingkat pertama yang mengalami gangguan depresi mayor atau gangguan depresi lainnya, peristiwa kehidupan yang traumatis atau penuh tekanan, memiliki kepribadian atau karakter yang negatif seperti harga diri rendah, terlalu tergantung pada orang lain, kritis terhadap diri sendiri, dan pesimistis, serta riwayat gangguan kesehatan mental lainnya seperti gangguan kepribadian.
Pada akhirnya, distimia dapat menyebabkan komplikasi meliputi berkurangnya kualitas hidup karena depresi berat, gangguan kecemasan, dan gangguan suasana hati lain, penyalahgunaan zat atau obat-obatan terlarang, memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan orang lain, sering mengalami konflik dengan keluarga, penurunan produktivitas, serta pikiran untuk bunuh diri.
Jika Anda merasa mengalami hal-hal yang disebutkan di atas, tak ada salahnya untuk segera mencari bantuan tenaga profesional. Entah itu psikolog maupun dokter jiwa. Sebab sama seperti depresi berat, distimia perlu diatasi. Terlebih kondisi ini bisa terjadi dalam jangka waktu bertahun-tahun dan menjadi bagian dari kehidupan.
(Helmi Ade Saputra)