“Ciri yang paling mudah dari seorang yang depresi adalah jadi bawa perasaan (baper), mudah tersinggung. Tidurnya tidak konstan bisa banyak bisa kurang. Berat badannya bisa naik dan turun, rasa capek yang selalu melekat, terbesit pikiran untuk bunuh diri, fungsi kognitif yang terganggu dan masih banyak lainnya,” terang dr. Margarita dalam acara konferensi pers Simposium Regional Lundbeck.
Tentunya depresi ini menjadi sebuah penyakit yang mengkhawatirkan. Tercatat di Asia Tenggara ada sekira 27 persen orang yang mengalami depresi. Sementara di luar sana masih ada 50 persen orang depresi yang tidak mendapatkan pengobatan. Hal ini seharusnya tidak dapat dibiarkan, para pasien harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
“Depresi harus segera diobati, jika tidak adakan menjadi semakin parah sehingga sulit untuk ditangani. Selain itu depresi juga bisa mengganggu fisik, pikiran dan relasi. Jika tak kunjung diobati, penderita depresi akan mencoba caranya sendiri agar bisa sembuh yakni dengan menggunakan obat-obatan terlarang. Penderita depresi yang tak kunjung mendapatkan pengobatan juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman di lingkungan masyarakat,” ujarnya.
(Muhammad Saifullah )