Perkembangan industri kopi di Indonesia terus menunjukkan geliatnya. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kopi menjadi primadona di kalangan kaum urban, termasuk generasi milenial.
Istilah kopi dan senja pun kerap menghiasi lini masa di berbagai platform media sosial. Ya, meski sekarang istilah tersebut sering dijadikan bahan olok-olokkan para netizen, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kopi benar-benar digandrungi oleh semua kalangan, tidak hanya dinikmati oleh para pencinta senja dan puisi.
Alhasil, dampak dari tren tersebut mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru di kalangan pengusaha muda. Hal ini bisa dilihat dari kemunculan kedai kopi baru yang menjamur di seluruh penjuru ibu kota.
(Foto: Dimas Andhika Fikri/Okezone)
Sebagian besar di antaranya memang cenderung mengusung konsep kekinian guna menarik perhatian para konsumen muda. Tapi jangan salah, ternyata ada satu kedai kopi unik yang mempekerjakan kaum difabel sebagai baristanya. Kedai kopi itu bernama Sunyi House of Coffee and Hope.
Ide awal
Saat ditemui Okezone di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Almas Nizar selaku Co Founder Sunyi House of Coffee and Hope menjelaskan bahwa kedai kopi ini didirikan atas inisiatif salah satu temannya bernama Mario Gultom.
"Kebetulan Mario itu memang senang mengikuti social work. Dia sudah mengikuti kegiatan sosial di Indonesia mulai dari Jawa, Sumatera, NTT, hingga Papua. Namun saat berkunjung ke Singapura, dia merasa terkejut melihat pengembangan teman-teman difabel di sana itu ternyata jauh lebih baik," tutur Almas.
(Almas Nizar, Co Founder, Foto: Dimas/Okezone)
Berawal dari pengalaman tersebut, Mario akhirnya mengajak empat orang temannya termasuk Almas, untuk mencoba menyediakan lapangan kerja yang layak bagi kaum difabel di Indonesia.
Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya diputuskan untuk mendirikan sebuah kedai kopi di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Pemilihan model usaha ini bukan tanpa alasan. Almas menerangkan bahwa profesi baristalah yang dinilai sangat pas bagi kaum difabel. Pasalnya, profesi tersebut tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang selama ini mereka lakukan.
"Kalau ditelisik lebih dalam, kopi itu sangat identuk dengan art atau seni. Ada teknik-teknik khusus untuk meracik sajian kopi yang berkualitas dan nikmat. Jadi sebetulnya sangat cocok untuk kaum difabel. Selama ini, lapangan pekerjaan yang terbuka untuk mereka itu berkaitan dengan seni seperti menari, melukis, atau memahat patung," terangnya.