“Saya sudah hampir sebulan yang lalu dikirim ke Jakarta dari Palembang. Kalau untuk takut sendiri sih nggak ya. Takdir sudah ada yang atur, jadi kerjaannya di bawa santai saja. Kebetulan saya juga pernah bertugas yang lebih ekstrim daripada yang saat ini,” lanjutnya.
Meski demikian, sebagai seorang manusia rasa takut pun tetap menghantui dirinya. Terutama ketika kedua kubu sedang pecah hingga menimbulkan aksi saling lempar-lempar yang berpotensi menimbulkan dampak yang berisiko.
“Amankan aksi demo di Jakarta sih biasa saja. Cuman yang paling ngeri jika demonya sudah main lempar-lemparan. Lempar Molotov dan lempar air keras contohnya, paling bahaya itu kalau sudah terkena kulit,” tuntasnya.
(Muhammad Saifullah )