Ia mengatakan rumah sakit tempat ia bekerja melakukan yang terbaik dengan memberinya kesempatan untuk kembali menjadi dokter bedah.
"Saya menjalani fisioterapi, saya berkonsultasi dengan ahli bedah ortopedi — karena itu adalah hal yang sangat besar untuk disampaikan, 'saya menghabiskan waktu 20 tahun dalam hidup saya, untuk mencapai berbagai gelar, ujian dan berbagai pelatihan untuk menjadi seorang ahli dalam bidang yang saya cintai, saya tidak bisa melakukannya lagi '.
"Saya bisa menjalani kehidupan sehari-hari, namun saya tidak mampu lagi untuk melakukan tindakan bedah terhadap para pasien, itu tidak akan pernah terjadi," katanya.
Saat ini, Dr. O'Riordan juga membutuhkan waktu "untuk tidak memikirkan tentang kanker", mengingat kembali bekerja sebelum penyakitnya kambuh menimbulkan trauma.
Selain itu, risiko terkena kanker untuk yang kesekian kali lebih tinggi daripada sebelumnya, dan bisa merembet ke anggota tubuh lainnya.
Setelah sekitar empat bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai dokter bedah.
"Itu pahit, dan benar-benar, sangat sulit untuk mengucapkan selamat tinggal."
ronisnya, ia kini menganjurkan orang-orang kembali bekerja setelah terkena kanker.
Dr O'Riordan, yang bersuamikan seorang konsultan bedah, mengatakan ia "beruntung" memperoleh pendapatan meski tidak bekerja.
Baru-baru ini ia menjadi tenaga sukarelawan sebagai duta lembaga sosial, Working with Cancer, yang memberitahu soal hak-haknya setelah ia memutuskan untuk kembali bekerja pada tahun 2017, usai menjalani perawatan kanker pertamanya.
Salah seorang direktur pengganti di rumah sakit mengatakan kepadanya bahwa pada saat ini ia diharapkan kembali bekerja secara bertahap selama empat minggu.
"Saya masih kelelahan dan mencoba membuat otak saya bekerja lagi," kata Dr. O'Riordan.
"Saya tidak menyadari bahwa jika Anda menderita kanker, Anda tergolong sebagai penyandang disabilitas berdasarkan UU Kesetaraan dan atasan Anda harus membuat penyesuaian agar Anda bisa kembali bekerja.
"Banyak orang yang menginginkan kehidupannya normal kembali setelah terserang kanker, tetapi bisa sangat sulit untuk menemukan jalan Anda dan banyak atasan di perusahaan tidak tahu bagaimana cara membantu pasien kanker atau bagaimana seharusnya mereka diperlakukan."Dr O'Riordan mengatakan sebagian besar tenaga pembimbing yang tergabung dalam badan sosial Working with Cancer terkena penyakit yang sama dan mereka "mendapatkan haknya."
Selain mendapat informasi tentang hak-haknya, mereka juga menyiapkan perencanaan bagi para staf dan atasannya masing-masing.
Akibat kemoterapi yang dijalaninya, Dr O'Riordan memiliki rambut keriting yang pendek.
Salah seorang pembimbingnya bertanya, "Apa yang akan Anda lakukan ketika orang tidak mengenali Anda?"
Ia tak mempedulikannya, sampai suatu hari ia menyadari salah seorang temannya tidak mengenalinya.
Badan sosial Working with Cancer telah membantunya mengatasi berbagai kecanggungan.
Sebelum kembali ke tempat kerjanya, ia mengirim email kepada salah seorang manajernya dan menjelaskan bahwa ia senang membahas penyakitnya dengan rekan-rekan kerja, tetapi tidak selama jam kerja.
"Anda berhak untuk meminta hal-hal yang memudahkanmu. Mereka tidak bisa memecatmu karena itu akan menjadi diskriminasi."
Mantan ahli bedah tersebut mengatakan tugasnya sebagai duta dari badan sosial itu telah membantunya terhubung kembali dengan tujuan hidupnya.
"Sebagai konsultan ahli bedah, saya telah membantu 70, mungkin 100 perempuan penderita kanker payudara selama setahun."
"Tetapi melalui buku saya, blog, diskusi dan menjadi duta bagi Working with Cancer, saya dapat membantu ratusan, ribuan perempuan," kata O'Riordan.
(Renny Sundayani)