3. Tidak perlu bereaksi berlebihan
Ketika anak menangis sampai meraung-raung, orangtua mungkin jadi panik dan langsung bereaksi secara berlebihan. Misalnya dengan bilang, “Aduh, kamu kenapa? Siapa yang nakalin kamu? Ada yang usil, ya?” atau langsung membelikan anak barang yang dia inginkan.
Selain tidak akan membuat tangisan anak berhenti, anak justru melihat bahwa menangis adalah senjata yang ampuh untuk menarik perhatian orangtua dan mendapatkan apa yang dia mau.
Lalu orangtua harus melakukan apa? Anda bisa perlahan coba katakan, “Adik, kalau kamu menangis Ayah/ Ibu nggak bisa dengar kamu mau apa,” atau, “Ayo, stop dulu tangisannya, baru cerita apa yang bikin perasaanmu nggak enak.”
Cobalah bersikap netral ketika anak sedang bersikap cengeng. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa cara untuk mendapatkan perhatian orangtua dan apa yang dia mau adalah dengan bicara baik-baik dan jelas, bukan lewat menangis.
4. Coba mulai tingkatkan sosialisasi anak
Cengeng belum tentu selalu disebabkan karena anak manja. Ketika anak cengeng, bisa saja disebabkan karena kepercayaan dirinya saat bergaul atau bermain bersama temannya kurang. Tak ayal, mereka akan mencoba menangis atau merengek sebagai tanda “minta tolong” pada Anda, atas masalah yang sedang dihadapinya ini.
Untuk mengatasinya, coba Anda temani saat dia bermain bersama temannya. Tidak perlu sepanjang hari, cukup di saat-saat awal dia bermain, perkenalkan dengan teman-temannya, dan saat dia mulai mencari Anda karena rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul saat sedang main.
5. Ajari anak untuk meluapkan emosinya dengan sehat
Tidak semua penyebab anak cengeng disebabkan karena karakter anak yang sensitif dan pemalu. Ini hanya masalah bagaimana Anda mengajak dan mengajari anak untuk lebih terbuka dengan dunia luar.
Alternatifnya, Anda bisa mengajarkan anak untuk meluapkan emosi dengan melakukan aktivitas kesenian seperti menggambar dan menyanyi atau melakukan olahraga yang dia suka. Penting juga untuk mengingat bahwa tidak semua anak itu sama, karakter setiap anak berbeda-beda. Maka, terus cari tahu kegiatan apa yang disukai anak untuk meluapkan emosinya.
(Martin Bagya Kertiyasa)