Rekan satu tim Prof. Sunu, dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP(K) menegaskan para pasien gagal jantung yang ingin mencoba memasang CRT harus melewati beberapa skrining sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh para dokter spesialis jantung yang besangkutan.
"Yang jelas harus dipastikan pasiennya mengalami gagal jantung. Jadi kriteria pertama adalah tingkat injeksi jantungnya harus di bawah 35 persen. Jika masih diatas 35-55 persen maka kami tidak anjurkan. Yang kedua adalah ketidaksinkronan antara kedua belah bilik, pasalnya CRT berfungsi untuk mensinkronkan kerja jantung agar lebih efektif daya pompanya," tutur dr. Dicky.
Selain melakukan skrining seperti yang dilakukan di atas, pasien juga harus melewati pemeriksaan fisik seperti EKG dan Echo yang kurang lebih menghasilkan satu hingga dua jam. Jika semuanya siap dan beres, maka bisa dipasang CRT-nya hari itu juga. Meski demikian proses ini tentu memiliki beberapa risiko meski persentasenya sangatlah kecil.
"Risiko luka, pendarahan, infeksi, mungkin bisa berpotensi pada paru-paru maupun pembuluh darah. Selain itu, adanya malfungsi dari CRT juga bisa dialami oleh pasien, meskipun tingkat risikonya dibawah lima persen. Kami juga akan melakukan observasi selama tiga malam empat hari bagi para pasien yang melakukan operasi pemasangan CRT," tuntasnya.
(Santi Andriani)