Operasi itu terjadi berulang kali, begitu juga dengan rangkaian pengobatan yang harus dijalani Lucas. Tiga hingga enam sekali ia perlu memeriksa kondisi hidrosefalusnya. Terakhir, remaja yang bercita-cita sebagai pembalap profesional itu menjalani operasi untuk pengangkatan tumor. Oleh karenanya, rumah sakit bukanlah tempat yang asing untuknya.
Devon dan Whitney mengaku sangat bangga dengan putranya karena bisa melalui semua itu. Berkat itu pula mereka memiliki alasan untuk hidup. "Kami hanya menikmati setiap detik bersamanya. Mungkin karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kami hanya berusaha menghirup napas sebanyak mungkin yang dibisa secara bersama-sama,” ungkap Devon.
Di sisi lain, tak hanya harus menahan rasa sakit, Lucas juga harus berhadapan dengan tatapan aneh orang-orang di luaran dan bullying di sekolah. Perilaku itu tentu membuatnya tidak suka dan terkadang dia enggan pergi ke sekolah. Tapi ia tidak terjebak dalam keadaan terpuruk itu berlarut-larut.
“Aku tidak akan membiarkan pandangan dan perilaku orang-orang menghentikanku untuk melakukan apa pun. Sebab aku bisa melakukan semua yang dilakukan anak normal, hanya saja ada tanda yang membuatku terlihat berbeda. Aku memiliki nevus dan harus lebih fokus pada hal itu,” pungkas Lucas.
(Helmi Ade Saputra)