Ketersediaan dan harga obat yang sangat mahal, menjadi tantangan terberat Agus selanjutnya. Sang ayah harus memutar otak untuk berjuang mencari uang untuk memperpanjang masa hidup Dito.
“Sekalipun ada, obatnya harus dipesan dari luar negeri dengan harga yang sangat mahal. Kalau kami harus berjuang sendiri, uang hasil jerih payah sendiri, tidak akan bisa mencukupinya,” tambah Agus.
Tak hanya beban materiil, Agus juga harus menanggung beban mental. Ia harus menerima kenyataan bahwa anaknya harus melakukan terapi enzim seumur hidupnya. Hal ini wajib dilakukan, supaya Dito bisa kembali bernapas seperti sediakala.
“Saat ini Dito tengah menjalani terapi enzim di RSCM. Dokter akan melihat selama enam bulan, bagaimana perkembangannya. Jika berhasil, mungkin Dito bisa kembali bernapas tanpa menggunakan ventilator. Tapi yang jelas, terapi enzim ini harus dilakukan Dito seumur hidupnya. Diperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk Dito mencapai 1 milyar per tahunnya,” tutupnya.
(Renny Sundayani)