Saat ditanam terlalu lama di laut, bambu juga akan menjadi fosil. Berbeda dari logam yang lama kelamaan akan habis. Selama tujuh tahun meneliti, akhirnya diketahui bambu juga lebih kuat dari besi. Dijelaskan dia, pemecah ombak tsunami itu terdiri dari beberapa lapis bambu. Lapis pertama berada di tengah lautan. Sejumlah batang bambu ditancapkan ke dalam laut.
“Lalu di atasnya kami kasih botol bekas dan dikasih tanah. Lalu di atas tanah itu ditanami bibit bambu lagi. Jenis apa saja. Kami akan lakukan bersama PT Banten West Java. Jadi, di tempat wisatanya,” ujarnya.
Pada lapis kedua ditanam bambu air asin dari Papua. Bambu yang hidup ini akan menambahkan kekuatan dari terjangan ombak tsunami. Lapis ketiga hingga kelima ditanam batang bambu betung yang besar. “Bambu-bambu itu bisa 10 meter persegi, tinggal dihitung berapa kilo. Kami mau uji coba satu kilo dulu, dilepas pertama 100 bibit untuk batangnya ada 10 ribu. Bambu-bambu itu yang akan membelah ombak sehingga sampai daratan ombak hilang,” ujarnya.
Setelah bambu terpasang, maka tercipta wisata pantai baru, yakni wisata hutan bambu di bibir pantai. Teknologi pemecah ombak tsunami dari bambu ini hanya diterapkan di titik-titik rawan tsunami. Teknologi ini juga diakuinya menghemat anggaran besar. Bambu dihitung per meter persegi seharga Rp2 juta, sangat jauh dibandingkan dengan harga beton. “Sebelum 26 April, saat Hari Kebencanaan Nasional, ini sudah bisa dilakukan. Kita sudah observasi dan lalukan penelitian tujuh tahun di seluruh dunia. Hasil penelitiannya, bambu lebih kuat dari besi,” katanya.