Psikodrama, Membongkar Lagi Masa Lalu untuk Jadi Pribadi Lebih Baik

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Jum'at 08 Februari 2019 16:45 WIB
Psycodrama membantu menjadi pribadi yang lebih baik (Foto:Sukardi/Okezone)
Share :

Tahapan ini dinamakan dengan warming up atau pemanasan. Tujuan dari sesi ini adalah bagaimana mengajak peserta untuk berpikir di luar dari kebiasaannya dan menyadari ada begitu banyak ilmu yang bisa didapatkan dari mengenali setiap karakter diri.

Setelah itu, sesi warming up berlanjut ke pengenalan teknik Sociometry yang mana terbagi menjadi dua bagian; Locogram dan Spectogram. Bagaimana kedua teknik ini dilakukan?

Saat melakukan Locogram, Didi meminta 12 koresponden dari peserta yang hadir. Didi membaginya ke dalam 3 kelompok besar yang berisikan; Feeling (berlatih empati), Thinking (mengungkapkan secara logis), Action (diusahakan nggak usah berpikir dan tidak usah merasakan, yang penting bertindak). Sementara itu, peserta yang tidak bergabung dalam kelompok koresponden dibagi menjadi dua kelompok; logis dan perasaan.

Maksud dari sesi ini adalah peserta diajak untuk mengenali bagaimana dirinya sesungguhnya. Ketika Anda tahu kalau Anda lebih dominan berpikir secara logis, maka Anda diajak untuk melihat perspekstif lain pun sebaliknya. Namun, untuk para koresponden, sesi ini dijadikan sebagai keterbukaan diri dan bagaimana mengasah kontrol diri dengan baik.

Beberapa orang meneteskan air mata di sesi ini. Kisah hidup orang lain menjadi dasar pelajaran hidup yang dipelajari peserta lain. Pelukan dan dukungan dari peserta lain menjadi penguat peserta yang nangis. Emosi sedih itu terbentuk natural dan di sesi ini tercipta sensitivitas yang terjaga dengan baik.

Berlanjut ke tahapan berikutnya yang dinamakan Spectogram. Di sesi ini, Didi membentuk tingkatan dimulai dari nol hingga 100. Dasar penilaiannya adalah bagaimana sikap orangtua di rumah terhadap Anda? Nol menunjukan kelembutan dan 100 berarti sangat disiplin bahkan bisa dibilang keras. Dalam sesi ini Okezone ikut terlibat.

Satu persatu koresponden bercerita. Air mata dan tangis mulai pecah. Tak bisa terbendung sama sekali. Kembali, dukungan dari peserta lain menjadi penguat. Terlebih saat Didi meminta koresponden untuk membayangkan sosok orangtua hadir di depan mereka. Ruangan kecil itu menjadi panas dan tangisan tak bisa ditahan.

Beberapa ada yang pergi keluar karena merasa situasi sudah tidak kondusif. Bukan karena tidak menghargai koresponden yang sedang bercerita, tapi, menurut Didi, mereka keluar karena tidak kuat dengan emosi yang terlalu besar.

Kenangan bersama orangtua yang sudah meninggal, teringat bagaimana belum bisa menjadi anak yang berbakti, atau pernah berpikir jahat kepada orangtua menjadi alasan-alasan yang muncul dan membuat emosi menjadi sangat besar. Di momen ini semua menarik napas panjang dan kemudian Didi meminta kita untuk saling berpegangan tangan. Saling menguatkan.

Sore hari tiba. Sesi menuju ke babak akhir. Psikodrama berlanjut ke tahapan Action di mana di sesi ini peserta diminta untuk terlibat dalam salah satu memori yang dibangkitkan seorang peserta. Dalam kesempatan itu, memori yang diangkat adalah kisah Charles di masa kecil.

"Aku pernah ketahuan ibu belum mandi padahal udah sore dan karena itu ibu aku minta aku memilih hukuman, tidak jajan atau tidak boleh main selama seminggu?" ungkap Charles mengingat masa lalunya.

Dari dasar cerita itu, kemudian Didi membangun kembali memori dan beberapa peserta terlibat dalam action ini. Ada yang berperan menjadi Charles kecil, jadi meja, kursi, televisi hitam putih, pintu, pembantu, majalah anak-anak, rumah, dan tentunya jadi ibu Charles.

Adegan setiap adegan diulang dan dihidupkan kembali. Charles yang menjadi sutradara dalam kisah hidupnya sendiri. Gelak tawa terdengar di sini. Suasana menjadi cair kembali dan Charles dengan ikhlas mengulang masa lalunya tersebut.

 

Sesi psikodrama ditutup dengan lingkaran penutup. Didi mengantarkan para peserta pada konslusi. Menafsirkan banyak makna yang mungkin tak disadari peserta. Memberitahu, apa yang terjadi selama sesi berlangsung dan bagaimana hal tersebut berarti di kehidupan seseorang.

 

Baca Juga:

 6 Meme Adi Saputra si Perusak Motor Sendiri, Terungkap Ini yang Ditulis Polisi

Banyak hal yang bisa dipelajari dari metode psikodrama ini. Namun, yang cukup penting adalah mengetahui siapa diri kita sebenarnya akan menentukan bagaimana kita bersikap dan menjalani kehidupan. Banyak orang menutupi sisi buruknya dengan sikap baik versinya sendiri.

Padahal, Didi menjelaskan, kalau yang namanya masa lalu yang buruk itu tidak bisa dihilangkan.

"Tidak ada salahnya masa lalu dibangkitkan dan kemudian dimanfaatkan untuk membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Trauma masa lalu bisa menjadi alat untuk Anda menjadi manusia yang terus belajar bahkan bisa menjadi keistimewaan Anda," paparnya lantas tersenyum.

Ada satu ilmu yang diyakini Didi dan ini bisa menjadi pembelajaran untuk siapa pun.

"Ngilmu tinemu kanthi laku yang mana maknanya adalah untuk mendapatkan pengetahuan, kemampuan, atau kompetensi dilakukan dengan bertindak atau dari pengalaman," ucapnya.

(Santi Andriani)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya