Untuk studi baru-baru ini, para peneliti menganalisis survey kesehatan dari lebih 650 pria yang mencari perawatan kesuburan di Rumah Sakit Umum Massachusetts antara tahun 2000 – 2017. Mereka berfokus pada volume, jumlah sperma, motilitas sperma, dan konsentrasi hormon masing-masing pria.
Mereka juga bertanya kepada para pria tentang penggunaan ganja di masa lalu dan sekarang, meskipun tidak bertanya tentang dosis atau frekuensi tertentu. Hasil survey menyebutkan, lebih dari 55% pria mengatakan bahwa mereka merokok (ganja) di masa lalu, sementara 11% di antara mereka mengaku masih menggunakannya hingga saat ini.
Para peneliti kemudian membandingkan semen dan analisis hormone masing-masing pria yang disesuaikan dengan penggunaan ganja mereka. Ditemukan bahwa pria yang saat ini atau sebelumnya menggunakan ganja memiliki jumlah sperma dan konsentrasi sperma yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak pernah menggunakan ganja sama sekali.
Tidak hanya itu, pria yang merokok ganja juga memiliki kadar hormon perangsang folikel lebih rendah yang sering dikatikan dengan peningkatan risiko infertilitas.
(Renny Sundayani)