Setiap tanggal 25 Januari selalu diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Hingga saat ini, tak bisa dipungkiri masalah gizi di Indonesia masih cukup besar. Salah satunya beban gizi ganda yaitu malnutrisi dan kelebihan nutrisi.
Malnutrisi atau gizi buruk memiliki dampak negatif seperti busung lapar dan stunting. Sedangkan kelebihan nutrisi dapat membawa masalah obesitas yang berkaitan dengan penyakit tidak menular. Saat ini, fokus pemerintah lebih ke menuntaskan masalah malnutrisi. Sebab kelebihan nutrisi dapat dicegah melalui kesadaran masyarakat dan kampanye untuk melakukan gizi seimbang.
Sementara itu, tak jarang masyarakat yang menganggap bila persoalan gizi buruk hanya terjadi pada masyarakat pedesaan. Tapi nyatanya, masalah ini juga bisa terjadi di perkotaan lantaran kesalahan orangtua memberikan asupan makanan kepada anaknya. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bambang Brodjonegoro, masalah gizi tidak hanya terbatas pada ketersediaan pangan yang ada di pasar, tetapi juga kepada pengetahuan dan kesadaran di masyarakat.
Maka tak heran bila masalah gizi buruk juga ada di daerah perkotaan. Okezone telah merangkum kasus-kasus gizi buruk di perkotaan, Jumat (25/1/2019). Berikut ulasannya :
1. Selly Adelia Putri
Anak perempuan berusia 7 tahun ini mengalami gizi buruk karena kurang perhatian dari orangtua. Selly Adelia Putri tinggal bersama sang kakak, Putra yang masih belia di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Ibunya sudah meninggal serta ayahnya meninggalkan dia dan kakaknya. Putra berusaha kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan gizi adiknya namun masih belum cukup. Hal itulah yang membuat Selly harus terkena gizi buruk. Dirinya sempat dirawat di RSUD Koja karena kondisinya yang memerhatikan.