Upacara awal dimulai di pagelaran Kraton Solo, yang di komandani oleh Lembaga Dewan Adat ( LDA) Kraton Surakarta yang dipimpin GRAy Koes Murtiyah Wandansari (Gusti Moeng) membuka acara sebelum sesaji kepala kerbau termasuk uba rampenya dibawa ke alas Krendhowahono.
Sejumlah sesajian, seperti nasi dan lauk pauk, jajan pasar, buah hingga kepala kerbau bersama organ dalamnya termasuk darah kerbau yang ditutup kain putih terlebih dahulu didoakan oleh para ulama keraton.
"Sesaji itu dikirab menuju hutan Krendowahono Gondangrejo untuk dikuburkan di sana," lanjut Satriyo
Konon menurut cerita leluhur, hutan Krendowoho ini merupakan pintu masuk keraton dari sisi utara. Untuk mengantisipasi adanya kekuatan jahat yang masuk keraton melalui pintu sisi utara dilakukan ritual Mahesa Lawung.
"Upacara adat ini juga sekaligus sebagai bentuk syukur atas keselamatan kepada Tuhan yang Maha Esa. Upacara adat sudah ada sejak era Mataram dan sampai saat ini masih berlangsung rutin setiap tahunnya," lanjutnya.