Baru Menjadi Ibu di Usia 40-an, Ini Kisah Para Perempuan di Dunia

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 06 Januari 2019 14:41 WIB
Jenny Glancy dan anak kembarnya (Foto: BBC)
Share :

Jalan yang terbelah

Umumnya, keputusan ibu untuk kembali bekerja setelah melahirkan anak punya banyak pertimbangan, yang terbesar adalah pertimbangan keuangan. Inggris adalah negara dengan biaya merawat anak termahal di dunia, sementara Swedia, perawatan anak mendapat subsidi besar. Biaya-biaya ini berdampak pada perempuan yang baru menjadi ibu, terlepas dari usia mereka.

Glancy-Potter meyakini bahwa biaya membesarkan anak menjadi beban tersendiri bagi perempuan usia 40an, dan kebanyakan tak bisa bergantung pada kakek atau nenek untuk menolong.

"Perawatan anak menjadi isu khusus bagi ibu-ibu yang lebih tua, karena anggota keluarga kami juga sudah lebih tua. Ibu saya sangat membantu, tapi saat saya punya anak, usia ibu saya sudah 70-an. Jika saya punya anak di usia 20-an, maka suami dan saya bisa tidak terlalu tergantung pada perawatan anak yang dibayar dengan formal."

Tak ada bantuan resmi dari pemerintah untuk memastikan para ibu seperti Glancy-Potter mampu membiayai perawatan anak dan bisa kembali bekerja. Dan biaya perawatan anak akan memakan hampir semua gajinya.

Namun cara-cara untuk memastikan para ibu Gen X yang semakin bertambah jumlahnya ini untuk bisa tetap bekerja akan menguntungkan ekonomi, kata Myra Strober, seorang profesor emeritus bidang ekonomi dan pendidikan di Stanford's Graduate School of Education and Graduate School of Business. Sayangnya belum ada negara yang telah menerapkan praktik ini.

Menurut Strober, jika para ibu itu memilih untuk mengorbankan karier mereka, maka dampak dari mereka berhenti bekerja bisa berpengaruh pada pendapatan nasional, daripada jika pekerja yang lebih muda dan yang lebih tidak berpengalaman yang berhenti kerja.

Perempuan di atas usia 40-an dan lebih tua biasanya "lebih berpendidikan dan punya posisi yang memikul tanggung jawab lebih besar dan mendapat pemasukan lebih besar daripada perempuan yang lebih muda".

"Dengan memastikan bahwa perempuan berpengalaman di usia 40-an bisa kembali bekerja dan tetap produktif di angkatan kerja bukan hanya progresif secara sosial, tapi juga langkah tepat di bidang ekonomi."

 

'Saya bisa hidup lagi'

Meski pandangan masyarakat terhadap ibu yang bekerja mulai berubah, namun asumsi sosial tentang ibu-ibu yang berusia lebih tua masih tetap ada. Beberapa perempuan yang mulai berkeluarga di usia 40an malah terjebak di peran "ibu tua".

 

Gewanda Parker, 49, punya dua anak perempuan usia tujuh bulan dan dua tahun. Mereka tinggal di negara bagian Florida, AS. Saat keluar bersama anaknya, dia dianggap nenek atau bibi mereka, sementara perempuan yang lebih muda dianggap ibu.

Dan dampaknya, Parker menjadi semakin sadar penampilan, memastikan bahwa penampilannya selalu rapi dan bergaya, lengkap dengan rambut rapi dan riasan wajah. Jika ibu lain bisa dimaafkan jika penampilan mereka tidak terlalu rapi, Parker merasa bahwa dia harus bekerja lebih keras untuk melawan asumsi orang akan usianya berdasarkan penampilannya.

"Tanpa sadar saya harus memastikan bahwa penampilan saya harus yang terbaik - saya selalu berpikir, "Saya tidak mau memunculkan situasi yang membuat anak saya merasa aneh."

Tapi kenyataannya, Parker tak merasa bahwa dia adalah ibu yang lebih tua. Punya anak di usianya, menurutnya, adalah "hal paling menyegarkan dan memuaskan. Saya bisa kembali lagi melihat hidup sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Ya, saya mungkin lebih tua, tapi hal-hal yang saya lakukan dengan anak-anak saya menjaga saya tetap muda."

Struktur masyarakat global dan stereotipe mungkin tidak bisa mengikuti kenyataan, namun Parker yakin, perubahan akan datang. "Bahkan saat masyarakat enggan berubah, ada tuntutan masyarakat untuk mendukung ibu yang lebih tua."

Dengan semakin banyaknya ibu Generasi X seperti dia, maka masyarakat, menurutnya, akan dipaksa untuk lebih menerima dan menyesuaikan diri.

"Kita harus mengubah bahasa atau gambaran yang muncul akan seperti apa sosok seorang ibu," katanya. "Kita harus belajar bagaimana bisa menjadi inklusif tanpa merasa canggung, dan kita harus belajar untuk tidak menghakimi dan melakukan stereotipe, dan membahas isu (ibu yang lebih tua) dengan pikiran terbuka."

(Utami Evi Riyani)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya