Mengenal Lupus Eritematosus Sistemik, Penyakit Autoimun Berbahaya yang Mematikan

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Selasa 27 November 2018 13:33 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

PENYAKIT autoimun menjadi masalah tersendiri karena penanganan yang terbilang ekstra. Para pasien diharapkan mampu melawan penyebab penyakit yang berasal dari tubuhnya sendiri.

Salah satu masalah autoimun yang banyak dialami adalah Lupus eritematosus sistemik atau systemic lupus erythematosus (SLE). Penyakit ini merupakan penyakit autoimun kronik yang dapat menyerang berbagai organ, mulai dari sendi, kulit, dan sel darah, ginjal, hingga saraf.

Menurut penjelasan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, penyakit autoimun ini merupakan penyakit di mana sel kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri.

"Khusus untuk masalah SLE, gejalanya bisa ringan sampai mengancam nyawa. Makanya, perlu penanganan yang tepat untuk menjamin keselamatan pasien," terangnya pada Okezone.

Baca Juga: Aksi Lelaki Ini Kendarai Motor Sambil Makan Mi Ayam, Videonya Viral!

(Foto: Medicinesia)

Dia melanjutkan, seseorang bisa terkena SLE karena memiliki faktor predisposisi genetik yang kemudian dicetuskan oleh faktor lingkungan seperti infeksi virus, sinar ultraviolet, atau hormon. Faktor lain yang juga berperan dan banyak diteliti saat ini adalah bakteri yang ada di saluran cerna.

"Ketidakseimbangan bakteri saluran cerna dapat memengaruhi kekebalan tubuh, yang kemudian dapat memengaruhi aktivitas penyakit SLE. Oleh karena itu, upaya yang dapat memperbaiki keseimbangan bakteri di usus diharapkan dapat memperbaiki respons kekebalan tubuh pada pasien SLE sehingga dapat membantu pengobatan pasien," papar dr Ari.

Salah satu tata laksana yang bisa diberikan pada pasien SLE adalah pemberian suplementasi sinbiotik, yang berisi probiotik atau bakteri saluran cerna yang bermanfaat untuk kesehatan, dan prebiotik yakni komponen diet yang dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri komensal di saluran cerna sebagai terapi tambahan pada pasien SLE.

Baca Juga: Selamatkan Nyawanya, Pasien Kanker Ini Bikin Tato Wajah Dokternya di Punggung, Kisahnya Bikin Haru!

Upaya ini diharapkan dapat memperbaiki keseimbangan di dalam usus pasienter. Pengobatan standar saat ini pada pasien SLE adalah obat yang bersifat menekan kekebalan tubuh agar tidak berlebihan.

Di sisi lain, berdasarkan penelitian yang dilakukan dr. Alvina Widhani, SpPD, KAI dan akan dipresentasikan pada 27 November 2018 dalam rangka ujian promosi Doktor dalam bidang Biomedik, mendapatkan bahwa pemberian suplementasi sinbiotik sebagai terapi tambahan selama 60 hari dapat memperbaiki komposisi dan fungsi bakteri di usus.

Selain itu, dari penelitian yang dilakukan oleh Staf Pengajar Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM ini juga didapatkan fakta, pemberian suplementasi dapat menekan peradangan dan memperbaiki aktivitas penyakit pada pasien SLE, namun tidak didapatkan perubahan bermakna dari respons imun spesifik.

Terkait dengan penelitian ini, diketahui bahwa pasien tetap meneruskan obat standar yang rutin dikonsumsi sebelumnya. Setelah itu, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan adverse event antara kelompok yang mendapat terapi sinbiotik dengan yang tidak mendapat terapi (plasebo).

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan yang terjadi menetap setelah suplementasi dihentikan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian dengan waktu intervensi yang lebih lama untuk mengetahui apakah terdapat perubahan respons imun spesifik.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya