MASIH ingat dengan kejadian tidak mengenakkan yang dialami seorang atlet judo putri Indonesia Miftahul Jannah? Saat mengikuti judo tunanetra Asian Para Games 2018 lalu, Miftahul terpaksa didiskualifikasi karena enggan melepas hijabnya.
Kejadian ini sempat menyita perhatian masyarakat Indonesia, dan tak sedikit pula yang mempertanyakan keputusan wasit. Namun jika ditelaah lebih jauh, Federasi Olahrraga Buta Internasional (IBSA) sebetulnya telah menerapkan sebuah aturan bahwa, para atlet harus melepas hijab mereka saat bertanding.
Kejadian serupa juga dialami oleh seorang atlet judo asal Arab Saudi, Wojdan Shaherkani. Ia dilarang bertanding pada cabang judo Olimpiade 2012 lalu karena memakai hijab. Larangan tersebut langsung dikeluarkan oleh Presiden International Judo Federation, Marius Vizer.
“Sesuai dengan prinsip dan semangat judo, Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shaherkhani tidak bisa bertarung menggunakan hijab,” tuturnya seperti dilansir Okezone dari Aljazeera, Minggu (25/11/2018).
Masalah keamanan
Juru bicara federasi, Nicolas Messner mengatakan, keputusan itu dibuat atas dasar masalah keamanan. “Dalam judo, kami saling mencengkeram dan memiting leher, jadi hijab bisa berbahaya. Satu-satunya perbedaan di antara petarung judo adalah level kemampuan judo mereka,” tutur Nicolas.
Federasi judo Asia sebelumnya telah mengizinkan wanita Muslim mengenakan hijan selama kompetisi berlangsung. Namun sayangnya, aturan tersebut belum diterapkan oleh federasi internasional, termasuk Olimpiade.
Kejadian ini sempat menghebohkan jagat maya, mengingat kala itu pemerintah Arab Saudi untuk pertama kalinya mengirimkan perwakilan perempuan mereka di ajang Olimpiade. Keputusan ini bukan tanpa syarat, para atlet harus diizinkan untuk mengenakan pakaian yang pantas untuk wanita muslim, salah satunya hijab .
Namun ketika masalah ini memicu perdebatan di seluruh dunia, Shaherkani akhirnya diperbolahkan masuk ke arena pertandingan judo. Remaja yang pada saat itu masih berusia 16 tahun itu, memodifikasi hijabnya hingga menyerupai penutup kepala yang digunakan atlet renang.
Meski belum berhasil meraih medali, penampilan atlet kelahiran Mekah itu mendapat banyak pujian karena dia menjadi atlet hijabers pertama yang tampil dalam cabang judi Olimpiade, sekaligus menjadi pertandingan internasional pertamanya.
https://www.aljazeera.com/sport/london2012/2012/07/2012726175434820826.html
(Santi Andriani)