“Kenapa di push? Danau Toba ini branding sudah cukup bagus, sebagai danau vulkanik terbesar. Hanya pihak kita ini mau menggandeng pendekatannya ke tiga ‘A’ dulu ni. Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas. Atraksi, jadi bukan hanya semata “lihat danau” saja, tapi menjual juga wisata budayanya. Kemudian amenitas dan aksesnya dibagusin jadi memudahkan wisatawan. Branding sudah cukup kuat, hanya kami me-rebrand lagi dengan hestek “Ayo ke Toba”,” papar Rachma kala ditemui Okezone, Jumat (14/9/2018) di Surabaya, Jawa Timur dalam acara peluncuran sell mission “Ayo ke Toba”.
Di kesempatan yang sama, Rachma juga menjelaskan walau selama ini wisatawan mancanegara didominasi wisatawan dari negeri tetangga, Malaysia. Sebetulnya target untuk wisatawan yang datang berwisata ke Danau Toba itu sekarang sedang membidik wisatawan dari benua Eropa, di mana yang secara karakter alamnya memiliki kesamaan dengan alam Danau Toba.
Baca juga: Penyebab Bayi Lahir Bermata Satu, Hanya Ada 7 Kasus di Dunia
“Target wisman (wisatawan mancanegara) Danau Toba itu membidik sebetulnya Eropa, setipe ya Danau Toba dengan ada danau di Swiss misalnya. Jadi selain dari Asia, bidik wisatawan dari New Zealand dan Australia karena karateristik alamnya hampir sama dan juga tipikal orang-orangnya lebih suka wisata alam. Sedangkan di Asia, selain Malaysia wisatawan kita juga bidik dari Asia Timur,” pungkas Rachma.
(Fakhri Rezy)