Tetapi ada beberapa efek samping
"Progestin ini, yang dosisnya sudah diturunkan selama bertahun-tahun, masih terkait dengan struktur kimia testosteron. Semua turunan berujung pada levonorgestrel, progestin paling umum yang paling banyak digunakan," kata Regine Sitruk-Ware, seorang ahli endokrinologi reproduksi di Population Council, New York.
"Progestin itu masih androgenik dengan sendirinya, dilihat dari fakta bahwa dia dapat mengikat reseptor androgen."
Selama bertahun-tahun, ada beberapa generasi progestin. Meskipun para generasi awal hampir semuanya androgenik, baru-baru ini para ilmuwan telah mengembangkan versi yang terbuat dari progesteron sintetis.
Jenis ini punya efek sebaliknya - justru sering diresepkan untuk mengobati jerawat atau pertumbuhan rambut yang berlebihan karena mereka punya efek 'membuat jadi perempuan' (meskipun tetap saja bisa ada efek samping yang tidak diinginkan akibat ketidakseimbangan hormon).
Secara umum, merek pil yang lebih tua dan lebih murah cenderung mengandung hormon androgenik, sementara merek yang lebih baru, dan yang lebih mahal, cenderung mengandung anti-androgen.
Ini mungkin jadi salah satu alasan kenapa hanya ada 17% perempuan pengguna pil gabungan di AS yang mengambil versi anti-androgenik.
Ada reseptor androgen di seluruh tubuh, terutama di kelenjar keringat dan folikel rambut, yang menjelaskan mengapa progestin androgenik membuat beberapa perempuan lebih mudah berkeringat dan lebih berbulu.
Tetapi steroid yang kuat ini juga mempengaruhi otak.
Pada pria, androgen yang dilepas saat pubertas diketahui punya akibar merombak otak. Hal ini juga berlaku pada perempuan, di mana jumlah testosteron yang relatif kecil pun dapat menyebabkan area tubuh tertentu menyusut dan area yang lain tumbuh.
Mengingat apa yang telah kita ketahui tentang kekuatan hormon-hormon ini, rasanya aneh bahwa hingga saat ini tidak ada yang memeriksa apakah progestin yang dibuat dari hormon pria punya dampak tertentu.
"Ada banyak penelitian tentang efek sampingnya secara fisik," kata Pletzer. "Ada juga penelitian tentang efek samping emosional, karena itu terus dikeluhkan oleh wanita. Tetapi sangat sedikit penelitian yang melihat dampaknya pada otak dan kognisi," kata dia.
Salah satu studi pertama dilakukan hanya delapan tahun lalu - setelah pil sudah digunakan selama 50 tahun. Pada saat itu, Pletzer tertarik pada bagaimana otak wanita berubah sepanjang siklus menstruasi. (Baca lebih lanjut tentang bagaimana siklus menstruasi mengubah otak dan kemampuan perempuan).
Tetapi ketika dia menyadari bahwa dia tidak mengikutkan mereka yang sedang minum pil, dia bertanya pada dirinya sendiri: kenapa? "Kita tahu bahwa steroid yang dihasilkan oleh tubuh kita sendiri, seperti progesteron dan testosteron, mempengaruhi otak. Jadi tentu saja saya mengira hormon sintetis punya efek juga," kata dia.
Pletzer melupakan ide aslinya dan justru menguji efek pil. Dia mengumpulkan pria dan wanita yang pernah memakai kontrasepsi hormonal, lalu memindai otak mereka.
Apa yang dia temukan sangat mengejutkan. Hasil scan menunjukkan bahwa di beberapa area, otak perempuan yang menggunakan pil lebih besar daripada mereka yang tidak menggunakan pil. Area ini juga kebetulan adalah area yang lebih besar pada laki-laki dibanding perempuan.
Penelitian ini hanya punya sampel yang relatif kecil dan tidak memisahkan kontrasepsi androgenik dan anti-androgenik, jadi Pletzer memperingatkan agar hasilnya tidak dibaca secara berlebihan.
Tetapi penelitian lain juga mengisyaratkan bahwa kedua jenis hormon itu sebenarnya dapat mengubah perilaku kita.
Menambah konsumsi beras per hari bisa 'mempercepat menopause'
Para perempuan yang menghabiskan tabungan masa depan untuk membekukan sel telur
Apa yang dimaksud dengan kebiri kimia
Ternyata perempuan yang mengonsumsi pil dengan progestin androgenik memiliki kefasihan verbal yang lebih rendah (kemampuan untuk menggunakan kata-kata baru). Mereka juga lebih baik dalam kesadaran spasial. Hal ini masuk akal, karena pria dianggap kurang pandai berbicara daripada perempuan dalam situasi tertentu dan memiliki kesadaran spasial yang lebih baik.
Penelitian lain menemukan bahwa perempuan yang menggunakan kontrasepsi oral akan mengingat kisah emosional dengan cara seperti pria - mengingat inti lebih dari detailnya. Mereka juga tidak jago mengenali emosi orang lain, seperti marah, sedih, atau jijik - sama seperti pria.
Temuan ini menguatkan kecurigaan bahwa jenis pil tertentu membuat otak perempuan jadi lebih "maskulin". Mungkin bukti yang paling mencolok berasal dari sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2015.
Kali ini, Pletzer membandingkan otak perempuan yang menggunakan dua jenis pil dengan perempuan yang tidak menggunakannya. Beberapa area otak bahkan lebih besar pada para perempuan yang minum pil yang mengandung progestin anti-androgenik terbaru. Yang paling penting, perubahan ini tampaknya mempengaruhi perilaku mereka.