Dalam festival tersebut akan dilakukan penilaian untuk truk modifikasi. Kegiatan diikuti peserta dari 14 wilayah dari seluruh Indonesia bahkan dari luar Pulau Jawa seperti Bali dan Lombok.
"Dari peserta yang sudah mendaftar dapat diketahui bahwa dunia truk sangat dekat dengan kreativitas. Tidak jarang, pemilik harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk modifikasi. Bahkan bisa mencapai Rp300 juta," katanya.
(Foto: Bernas)
Sebagian besar truk yang mengikuti festival, lanjut Indro, biasanya tidak digunakan untuk moda angkutan pasir dan batu atau jenis bahan galian lain. "Truk-truk tersebut lebih banyak digunakan untuk pengangkut barang-barang spesifik seperti tekstil," katanya.
Salah satu perempuan yang menjadi pengemudi truk, Rukhayati mengatakan sudah dua tahun menjadi pengemudi dan kemudian diundang untuk hadir dalam festival tersebut sebagai ikon. "Sudah dua tahun terakhir ini. Saya dari Sumatera Selatan," kata perempuan berusia 21 tahun itu.
(Martin Bagya Kertiyasa)