"Yang menakuti tidak terlalu efektif, karena kebutuhan seks dalam psikologi adalah kebutuhan dasar, kalau ditakuti tetap dicari tahu apalagi remaja, mereka akan mencari tahu dari internet atau teman sebaya, dan tempat yang salah karena tidak ada wadah nyaman dan aman, serta orang yang kredibel untuk bicarakan seks secara komprehensif dan tidak memberikan ruang untuk remaja tanyakan apa saja,” imbuhnya.
(Baca Juga:Viral Foto Makanan Mirip Mr P, Bikin Netizen Gagal Fokus)
Akhirnya dengan informasi yang tidak tepat, di kemudian hari saat melakukan hubungan seks, mereka akan menjadi kebanyakan orang yang melakukan seks tapi tidak tahu cara yang baik dan aman, tidak pakai pengaman, dan tidak cek kelamin di klinik secara rutin. Maka, untuk mencegah hal-hal tersebut Inez menyarankan untuk bersikap ramah dan komprehensif, menyampaikan risiko dan alternatif dengan tidak menghakimi, tapi memberi solusi, beri pilihan pada remaja, dan tidak menakut-nakuti.
“Banyak pertanyaan ‘Kalau dikasih tahu, diberi pilihan, dan dikasih tahu soal pengaman mereka malah melakukan, bagaimana?’. Tapi, kalau menakut-takuti tetap saja dilakukan, sebenarnya hal tersebut jadi tanggung jawab masing-masing pribadi, dan orang dewasa punya tanggung jawab untuk memberitahu pengetahuan keputusan untuk remaja terkait seks. Maka berikan pendidikan reproduksi sepanjang hidup, tapi sesuai dengan kategori tertentu menurut umur, misal anak kecil paling tidak mengetahui batas orang lain menyentuh tubuhnya dan berani untuk mengatakan tidak atau melaporkannya pada orangtua atau dewasa lain,” pungkas Inez.
(Utami Evi Riyani)