Kala itu seorang wartawan dari Jakarta, secara tidak sengaja melanggar peraturan dengan kencing sembarangan di sebuah pohon yang terletak di pesisir pantai. Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja, namun tak berselang lama, sang wartawan mendadak mengalami penyakit aneh dan langsung tidak sadarkan diri.
Setelah diselidiki wartawan tersebut diketahui tidak menghormati tempat yang disakralkan oleh masyarakat Bali. Masyarakat Bali percaya bahwa buang air kecil di tempat atau saluran air yang mengarah langsung ke sawah atau laut, dianggap mengotori Dewi Sri dan Dewa Laut. Oleh sebab itu akan ada malapetaka besar bagi orang yang melanggarnya.
I Gusti Ngurah Harta juga berpesan kepada para wisatawan yang berkunjung ke Bali agar selalu bertanya kepada warga desa adat dan orang sekitar untuk mengetahui wilayah mana yang dikeramatkan ketimbang harus mengalami musibah di kemudian hari.
Tak hanya mengalami penyakit aneh, orang yang melanggar aturan dengan bertindak tidak sopan di tempat yang dikeramatkan juga kerap hilang atau meninggal dunia seperti digulung ombak besar dan tenggelam lainnya. Dan mayoritas korban yang meninggal dunia adalah laki-laki.
(Renny Sundayani)