PENGGUNAAN catokan di kalangan perempuan sekarang ini sudah menjadi hal wajar. Terutama bagi mereka yang selalu ingin tampil dengan model rambut bergaya. Ya, catokan memang bisa dimanfaatkan untuk meluruskan, mengeriting, dan membuat rambut tampak lebih berisi.
Akan tetapi, penggunaan catokan sering dikaitkan dengan kerusakan rambut. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Menurut pakar kecantikan, Dr Tim Moore, kesalahan dalam penggunaan catokan dapat menyebabkan kerusakan pada folikel rambut dan gaya pada model rambut.
"Ada banyak miskomunikasi tentang catokan. Rambut terdiri dari tiga jenis ikatan dan menempatkan catokan dengan suhu terpanas bukanlah kunci untuk mendapatkan rambut seperti yang diinginkan," ungkap Dr Tim seperti yang dikutip Okezone dari News, Senin (13/8/2018).
BACA JUGA:
Lebih lanjut dirinya menjelaskan bila penggunaan catokan di atas suhu 185°C tidak disarankan. Sebab bila catokan digunakan di atas suhu tersebut, maka akan menciptakan retakan vertikal di sepanjang kutikula, menyebabkan kutikula terangkat, serta menghasilkan rambut yang kusut dan bercabang. Alih-alih menata rambut, suhu tinggi catokan membuat rambut menjadi kering.
"Suhu yang memecah ikatan rambut adalah 200°C. Semakin tinggi suhu, maka bisa mengubah warna rambut juga. Beberapa orang malah ada yang menggunakan catokan hingga 230°C dan itu benar-benar kabar buruk karena dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan," terang Dr Tim.
Sementara itu, Dr Tim juga mengatakan bila seorang perempuan memiliki rambut keriting, maka tidak seharusnya menaikkan suhu catokan untuk membuat rambutnya lebih bergaya menjadi lurus. Dalam sebuah wawancara mengatakan bila meluruskan rambut tidak membutuhkan panas berlebih. Melainkan usaha atau energi yang lebih banyak untuk melakukannya.
BACA JUGA:
Tak hanya itu, Dr Tim mengingatkan agar jangan menggunakan catokan pada rambut yang masih basah. "Jika rambut basah, panas akan mengubah cairan menjadi gas yang membuat rambut menjadi mengembang. Air yang terperangkap di korteks akan keluar dari untaian dan merusaknya," pungkasnya.
(Dinno Baskoro)