HIPERTENSI merupakan masalah kesehatan utama yang diderita oleh banyak orang di dunia. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti stroke, serangan jantung, ginjal, dan masih banyak lagi. Oleh karenanya, kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadinya hipertensi harus selalu ditingkatkan.
Menurut Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr. Tunggul D. Situmorang SpPD-KGH, hipertensi merupakan silent killer. Salah satu cara mencegah terjadinya hipertensi adalah pemeriksaan tekanan darah secara berkala. Pemeriksaan bukan hanya sekadar dilakukan di pelayanan medis tetapi bisa juga dilakukan sendiri di rumah.
"Kalau pasien periksa ke dokter, dia nunggu terus liat wajah dokternya seram lagi, tekanan darahnya bisa jadi tinggi. Tapi kalau pemeriksaan di rumah pasien bisa lebih tenang," ungkap dr Tunggul saat ditemui Okezone di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.
Baca Juga: Astaga! Bir Hitam Ini Terbuat dari Miss V Para Model Pakaian Dalam, Tertarik Mencicipinya?
Pasien yang melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin di rumah dapat mencatat hasilnya. Kemudian pada saat kontrol ke dokter hasil tersebut dapat diserahkan.
Dengan begitu, dokter dapat menganalisis lebih dalam kondisi pasien dan memberikan perawatan yang tepat. Salah satunya adalah pemberian obat yang mengendalikan tekanan darah bila pasien memang terbukti memiliki hipertensi.
Baca Juga: Mengenal Talita Bachtiar, Sosok Mak Comblang di Balik Pernikahan Tasya Kamila
Ditemui dalam acara yang sama, dr Bambang Widyantoro, Sp.JP, PhD selaku Ketua Panitia “May Measurement Month” tahun 2017 dan 2018 membeberkan data pengukuran darah yang melibatkan kurang lebih 70.000 masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data, diketahui bila 1 dari 3 orang dewasa dengan rerata usia 41 tahun mengalami peningkatan tekanan darah. Selain itu, 1 dari 6 orang sudah mengonsumsi obat penurun tekanan darah.
Fakta lain yang juga terungkap adalah 1 dari 10 orang baru pertama kali mengetahui tekanan darahnya di atas normal. Padahal, sebanyak 7,7 persen pasien hipertensi sudah pernah mengalami stroke dan 15,7 persen juga memiliki penyakit jantung koroner.
Sayangnya 19 persen orang yang memiliki hipertensi masih merokok aktif dan 16,2 persen di antaranya terserang diabetes. Hasil pengukuran juga menunjukkan hipertensi terbukti meningkatkan risiko stroke 11 kali lebih tinggi dan risiko serangan jantung koroner 8 kali lebih tinggi.
Senada dengan dr Tunggul, dr Bambang juga mengatakan bila orang dewasa diharapkan melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin di rumah dan selalu berkonsultasi dengan dokter agar dapat menurunkan risiko komplikasi akibat hipertensi. Dirinya juga menjelaskan waktu yang tepat untuk memeriksa tekanan darah.
"Minimal pengecekan 1 bulan sekali di klinik. Namun untuk memonitor tekanan darah, lakukan pemeriksaan sendiri di rumah sebanyak 2 kali. Pertama pada saat bangun tidur, sebelum beraktivitas dan kedua menjelang tidur. Catat hasilnya kemudian berikan pada dokter saat tiba waktunya periksa," pungkas dr Bambang.
(Martin Bagya Kertiyasa)