HUBUNGAN seks memang menjadi kebutuhan biologis dari manusia dewasa. Tanpa disuruh pun, manusia dewasa normal akan melakukan kegiatan intim tersebut bersama pasangannya. Akan tetapi, tekanan hidup yang berat, terutama pekerjaan, membuat orang malas untuk melakukannya.
Berhubungan seksual erat kaitannya dengan kelanjutan keturunan. Patut diketahui, sejumlah negara di dunia saat ini tengah mengalami penyusutan penduduk usia produktif. Tidak heran, pemerintah rela mendorong para pria dan wanita dewasa untuk menikah, rutin berhubungan seks, dan memiliki anak.
Berikut deretan negara-negara tersebut, melansir dari Memebrity, Selasa (17/7/2018)
Romania
Pada dekade 1960 ketika dikuasai pemerintah beraliran komunisme, pertumbuhan populasi berjalan stagnan. Akhirnya, pemerintah memutuskan untuk mengenakan pajak sebesar 20% bagi pasangan yang tidak memiliki anak. Idenya cukup simpel: jika tidak bisa menyumbang calon tenaga kerja di masa depan, pasangan itu harus mendonasikan uang dalam jumlah cukup besar.
Ketika rezim komunis runtuh pada 1989, kebijakan brutal yang mengintervensi hak privasi individu itu dicabut. Namun, saat ini angka kesuburan hanya mencapai 1,31 anak per satu orang ibu sehingga dianggap masih rendah.
(Baca Juga:Video Bocah Joget Ini Bikin Netizen Bingung, Antara Nangis atau Seneng Sih?)
Denmark
Negara di Eropa bagian utara ini hanya memiliki angka kesuburan 1,73 anak per satu orang ibu. Pemerintah, melalui agen perjalanan Rejser, menawarkan paket menarik agar para wanita mau memiliki anak.
Mereka menawarkan paket berupa tunjangan selama tiga tahun bagi mereka yang memesan tiket perjalanan bulan madu lewat Rejser. Kampanye kini bergeser dengan tagline ‘Do it for Mom’ sebuah paket perjalanan bagi para pasangan muda agar segera memiliki anak demi memberi cucu kepada orangtuanya.
Rusia
Negara yang baru saja menunaikan tugas sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 itu mengalami badai demografi yang mengancam negara di masa depan. Para pria cenderung meninggal dalam usia muda, ancaman penyakit HIV/AIDS dan kecanduan alkohol merongrong negara, dan para wanitanya enggan memiliki anak, merupakan tantangan tersendiri bagi Negeri Beruang Merah.
Pemerintah Rusia pada 2007 lantas menetapkan 12 September sebagai Hari Nasional untuk Kehamilan. Di hari tersebut, masyarakat Rusia mendapat hari libur sehingga lebih fokus untuk berhubungan seks guna memiliki anak. Para wanita yang melahirkan tepat sembilan bulan kemudian, atau 12 Juni, akan dihadiahi lemari es.
(Baca Juga:Ini Alasan Nama Pesepakbola Negara Kroasia Berakhiran 'ic')
Jepang
Dengan tingkat ekonomi yang mencapai nomor dua terbaik di dunia, Jepang menghadapi tantangan besar di depan mata. Jumlah populasi usia produktif semakin menyusut, sementara penduduknya semakin menua. Problem makin pelik karena angka kesuburan berada di level mengkhawatirkan sejak 1975.
Pemerintah tidak tinggal diam. Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe sedang menggodok rencana untuk mendorong agar anak-anak muda di negaranya mau untuk menikah dan memiliki anak. Salah satunya lewat kebijakan Abenomics agar penduduknya tak perlu lagi khawatir dengan kondisi perekonomian pribadi, salah satu penyebab mereka malas berhubungan seks dan punya anak.
Singapura
Negeri Singa punya angka kesuburan paling rendah di dunia, yakni 0,81 anak per satu orang ibu. Pada 9 Agustus 2012, pemerintah mengadakan Malam Nasional hasil kerjasama dengan produsen permen Mentos untuk mendorong para pasangan agar berhubungan badan.
Pemerintah juga menerapkan kebijakan pembatasan apartemen satu kamar agar lebih banyak menyediakan hunian bagi para pasangan. Setiap tahun, pemerintah Singapura menghabiskan USD1,6 milyar hanya untuk program yang mendorong penduduknya agar lebih banyak berhubungan seks.
Korea Selatan
Sama seperti Jepang, perekonomian Korea Selatan tumbuh begitu pesat. Pertumbuhan pesat itu sayangnya diiringi oleh keengganan masyarakat untuk berhubungan badan dan menikah karena tuntutan pekerjaan serta belum terpenuhinya kebutuhan secara ekonomi.
Korea Selatan lantas menetapkan Hari Keluarga setiap Rabu pekan ketiga. Pada hari itu, semua bangunan di Negeri Ginseng, terutama perkantoran, wajib mematikan lampu mulai pukul 19.00. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat rajin untuk berhubungan seksual.
Angka kesuburan di Korea Selatan termasuk mengkhawatirkan, yakni 1,25 anak per satu orang ibu. Karena itu, pemerintah berusaha untuk mendorong agar para pasangan memiliki lebih dari satu orang anak.
Italia
Dengan tingkat kesuburan hanya 1,43, sedikit di bawah rata-rata Eropa 1,58, Italia menghadapi ancaman penyusutan penduduk. Negeri Pizza lantas gencar melakukan berbagai kampanye dengan jargon unik agar penduduknya mau punya anak.
(Utami Evi Riyani)