Saking tidak sabarnya, perempuan berusia 26 tahun itu sengaja mengambil kursus bahasa Inggris agar mudah bergaul. Teman Maria, Lyubov, juga menyebut Piala Dunia sebagai aset. Perempuan yang fasih berbicara tiga bahasa itu mengaku ajakan kencannya meningkat dari dua orang dalam seminggu menjadi empat. Ia bahkan terpaksa menolak ajakan kencan beberapa pria.
Maria dan Lyubov sama sekali tidak takut apabila teman kencan asingnya itu nanti akan kembali ke negara asalnya. Bagi mereka, ajang Piala Dunia hampir sama seperti liburan yang romantis. Meski begitu, Maria ingin mengubah persepsi orang-orang tentang Rusia, terutama mengenai perempuan.
“Para turis datang ke sini dengan sedikit pikiran buruk dalam kepala mereka. Saya yakin mereka berharap dapat melihat perempuan-perempuan Rusia yang berpakaian provokatif. Saya ingin mengubah perspektif itu,” tukas mahasiswi seni tersebut.
Penyelenggara Piala Dunia sengaja membuat area fan zone demi mengakomodasi para penggemar yang tidak dapat tiket untuk masuk ke stadion. Harian Rusia, Metro, dengan setengah bercanda menyebut area itu justru menjadi jembatan utama para pejuang cinta untuk menemukan tambatan hatinya. Metro memplesetkan istilah ‘Fan Zone’ menjadi ‘Flirt Zone’ atau zona genit.
(Martin Bagya Kertiyasa)